Jelang Idul Adha, Peternak Lamsel Tunda Penjualan Sapi dan Kambing
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Sejumlah pemilik ternak jenis kambing, sapi di wilayah kabupaten Lampung Selatan memilih menunda menjual ternak yang dimiliki kepada pedagang.
Turipto (56) salah satu warga Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menyebut, sebulan sebelum hari raya Idul Adha atau hari raya kurban kerap banyak pelaku jual beli ternak atau belantik menawar sapi miliknya. Meski demikian, ia mengaku, masih belum menjual ternak miliknya tanpa ada kepastian harga.
Turipto yang memiliki sekitar lima belas ekor sapi jenis limosin dan brahman mengaku, sudah memiliki pelanggan tetap. Pelanggan tetap diakuinya merupakan warga serta para belantik yang akan menjual kembali hewan kurban.
Warga yang akan membeli hewan kurban biasanya sudah membeli sapi miliknya setengah bulan atau satu pekan sebelum kurban berlangsung. Para belantik sebaliknya memilih membeli satu bulan sebelum perayaan hari raya kurban.
Turipto menyebut, meski hari raya Idul Adha akan jatuh pada 21 Agustus mendatang, pembelian ternak dari petani kerap sudah marak. Sebagai petani yang melakukan proses penggemukan ia mengaku masih menunda menjual ternak sapi miliknya.
Penjualan dilakukan hanya bagi warga yang sudah melakukan perjanjian sapi tetap dipelihara olehnya hingga menjelang kurban. Perhitungan biaya perawatan dan biaya pakan diakuinya sudah termasuk dalam perhitungan harga jual.

Turipto yang memiliki ternak sapi dengan sistem arisan tersebut mengungkapkan, warga pembeli sapi umumnya sudah memilih sapi sesuai dengan syarat hewan kurban. Saat ini harga sapi kurban sesuai dengan kondisi dan bobot ternak yang dipelihara dijual dengan harga Rp18 juta, Rp20 juta hingga Rp23 juta.
Sapi yang sudah dibeli sementara dititipkan kepadanya dengan tambahan perhitungan untuk biaya pakan dan pemeliharaan sesuai kesepakatan.
Sistem titip tersebut diakuinya menghindari pembeli lain yang melakukan pembelian dengan sistem dadakan. Sebab kerapkali, ia menyebut, ada pembeli yang membeli sapi sepekan sebelum hari raya kurban.
Ia bahkan mengaku sengaja menjual ternak sapi miliknya dan memilih menunggu mendekati hari raya kurban. Setiap tahun ia memastikan bisa menjual sebanyak 4 hingga 6 ekor sapi untuk kebutuhan hewan kurban.
“Tahun ini saya juga akan berkurban sehingga sudah saya siapkan satu ekor sapi jantan untuk dipotong di masjid desa kami,” terang Turipto.
Petani yang juga sekaligus peternak lain di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, bernama Bambang (30) mengaku, tahun ini dirinya berniat menjual satu ekor sapi miliknya. Meski demikian, ia menunda menjual sapi tersebut mendekati hari raya Idul Adha.
Sesuai harga pasaran ternak sapi untuk kurban, ia memastikan, saat ini kisaran paling murah mencapai Rp17 juta. Bahkan bisa lebih mahal sesuai dengan kondisi ternak sapi. Jenis sapi limosin, disebutnya, banyak dipilih karena memiliki daging yang lebih banyak.
Keputusan Bambang menunda menjual sapi miliknya karena sebelumnya sudah ada pembeli yang menawar dengan harga Rp15 juta. Ia menyebut, menjual sapi miliknya untuk kebutuhan membeli bibit sapi baru dengan harga Rp10 juta per ekor.
Harapannya, sapi yang dimilikinya bisa laku di atas Rp20 juta. Ternak sapi, disebutnya, menjadi instrumen investasi yang kerap dijual setahun sekali terutama saat Idul Adha.
“Saya sengaja menunda menjual ternak sapi meski kemarin butuh biaya untuk merehab rumah, menunggu harga tinggi,” papar Bambang.
Selain ternak sapi, jenis ternak kambing untuk kebutuhan kurban milik sejumlah petani di kecamatan Palas juga mulai banyak dibeli oleh belantik.
Suwarto (30) pemilik sebanyak sepuluh ekor kambing menjual sebanyak empat ekor kambing jantan. Kambing tersebut sengaja dijual untuk mengurangi bebannya mencari makan. Harga beli kambing sekitar Rp700 ribu, diakuinya, sudah laku terjual sekitar Rp1,3 juta setelah dipelihara selama enam bulan.
Sebagian dijual dengan harga Rp1,5 juta menyesuaikan ukuran kambing miliknya.
“Saya sempat akan menunda menjual kambing yang saya pelihara, namun agar mengurangi pakan, empat ekor sudah dijual,” papar Suwarto.
Kambing tersebut sengaja dibeli oleh belantik atau pelaku bisnis jual beli kambing. Waktu satu bulan sebelum Idul Adha, kerap dimanfaatkan untuk mencari kambing dan dijual di sejumlah pasar dan tepi jalan sebagai pedagang musiman.
Harga kambing yang ditawarkan cukup bervariasi dengan keuntungan dari Rp600 ribu hingga Rp1 juta per ekor lebih tinggi dari harga jual. Saat tidak terjual jelang hari raya kambing kerap dijual kepada pedagang sate dan gulai kambing bahkan sebagian dijual ke peternak untuk dipelihara kembali.