Jasa Penyewaan Alsintan di Lamsel, Kian Diminati Petani

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Saat ini, penyewaan alat pemipil jagung di Lampung Selatan meningkat signifikan. Para petani mengaku lebih diuntungkan dengan alat ini, karena efektivitas kerjanya yang mampu menghemat waktu dan biaya tenaga kerja.
Hendro (30), salah satu penanggungjawab alat pemipil jagung di Desa Ketapang, menyebut, alat untuk memipil jagung tersebut membuat tenaga kerja bisa dikurangi dan lebih efesien. Jagung dengan jumlah empat ton bisa dipipil dalam waktu sekitar empat jam, dan bisa langsung dijual ke pabrik.
Hendro, penanggungjawab alat perontok jagung yang dipercayakan padanya oleh pemilik mesin [Foto: Henk Widi]
Sebanyak empat mesin pemipil jagung dimiliki oleh Sang Bos yang memberinya tanggungjawab menjalankan mesin tersebut. Satu mesin pemipil jagung disewakan lengkap dengan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memasukkan jagung, mengangkut jagung ke mobil.
Berbekal nomor telepon, usaha sewa mesin perontok jagung tersebut kerap dipanggil ke Kecamatan Sragi, Bakauheni, Ketapang dan Penengahan.
Menurutnya, usaha penyewaan mesin perontok biji jagung dari janggel atau bonggol, sudah berlangsung sejak empat tahun terakhir. Bermula dari ongkos perontokan sebesar Rp20.000 per ton dan hingga kini mencapai Rp60.000 per ton, menyesuaikan harga bahan bakar minyak.
Ia menyebut, ongkos tersebut hanya untuk membayar mesin, karena tenaga kerja dibayar terpisah dengan rata-rata upah per tenaga kerja Rp50.000, dan menjadi tanggungjawab pemilik lahan.
“Istilah kami, sewa mesin perontok untuk memudahkan petani jagung langsung di kebun atau di lokasi pengepulan jagung yang sudah dikarungi, sebab jagung dijual dalam bentuk pipilan maupun masih berbonggol,” terang Hendro, Selasa (3/7/2018).
Bagi pemilik modal, mesin perontok jagung bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp1,5 – 5 juta, tergantung jenis mesin. Bagi Hendro yang menjalankan mesin, ia menyebut pendapatan dilakukan dengan sistem setoran dan sisanya menjadi hasil bagi dirinya dan pekerja. Dalam sehari, ia mampu melayani jasa memipil jagung sebanyak 20 ton, dan dirinya bisa memperoleh hasil Rp1,2 juta.
Pada awal masa panen raya jagung, mesin perontok jagung yang dibawanya bahkan bisa berpindah ke beberapa lokasi.
Selain memberi keuntungan bagi pemilik, keberadaan mesin tersebut memberi lapangan pekerjaan bagi warga yang berperan sebagai buruh. Bagi petani, kemudahan alat perontok lebih menghemat biaya, karena jagung bisa dirontokkan di kebun tanpa harus dibawa pulang.
Suniah (45), pemilik kebun jagung mengakui keberadaan mesin perontok jagung yang disewakan memudahkan dirinya. Ia tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk upah tenaga kerja.
Menggunakan mesin pemipil jagung yang disewakan dengan hasil 5 ton jagung, ia cukup membayar Rp300 ribu, ditambah membayar tenaga kerja sebesar Rp200 ribu, maka dirinya hanya mengeluarkan uang Rp500 ribu. Ditambah membayar upah buruh petik, maksimal bisa mengeluarkan Rp2 juta sekali panen. Jumlah tersebut diakuinya dipotong dari hasil penjualan jagung 5 ton dengan harga Rp3.550 yang mencapai Rp17,7juta sekali panen.
“Meski mengeluarkan biaya operasional, namun saya bisa menghemat waktu dan tenaga dengan adanya mesin perontok jagung” tutur Suniah.
Sementara itu, pemilik usaha penyewaan alsintan berupa traktor, Joni (35), mengaku membeli mesin traktor seharga Rp15 juta. Ia menjalankan usaha jasa pengolahan lahan sawah dengan traktor sejak lima tahun silam.
Ia bahkan sudah melayani pengolahan lahan sawah dengan biaya menyesuaikan luasan lahan mulai dari seperempat hektare hingga satu hektare.
Biaya pengolahan lahan dengan traktor mulai dari Rp250.000 hingga Rp400.000 sistem borongan yang dikerjakan selama dua hari. Pengolahan lahan dari pembajakan hingga menghaluskan lahan sawah dikerjakan bersama dua pekerja.
Selain lahan sawah, pengolahan lahan juga dilakukan pada lahan pertanian jagung. Keberadaan alsintan jenis traktor diakuinya menggantikan alat pengolah tanah dari bajak bertenaga kerbau dan sapi. Selain lebih efesien waktu, penggunaan traktor juga bisa digunakan untuk program percepatan masa tanam.
“Hasilnya lumayan dari usaha penyewaan traktor, dengan tiga unit saya miliki disewakan ke beberapa tempat,” cetus Joni.
Permintaan yang banyak dari petani membuatnya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp2 juta per pekan. Omzet tersebut dipergunakan untuk pemeliharaan alat dan sebagian dipakai membayar pekerja.
Namun, kata Joni, saat ini sejumlah kelompok tani sudah mampu membeli mesin traktor. Meski demikian, permintaan akan penyewaan mesin traktor tetap banyak dari wilayah Kecamatan Sragi.
Selain mesin traktor, alsintan lainnya yang disewakan adalah mesin penanam padi (rice transplanter) dan mesin pemanen padi (combine harvester). Kedua mesin tersebut banyak disewakan di lahan pertanian Sragi yang datar dan luas. Biaya sewa menyesuaikan luasan lahan, dengan kisaran Rp1-2 juta untuk penanaman dan pemanenan padi.
Lihat juga...