Balikpapan Tetapkan 50 Sekolah Ramah Anak

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Balikpapan, Sri Wahyuningsih. –Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN – Tahun ini, Balikpapan telah menetapkan piloting sekolah ramah anak (SRA) kepada 50 sekolah, melalui surat Keputusan Wali Kota, untuk memenuhi hak-hak anak.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Balikpapan, Sri Wahyuningsih, mengungkapkan, ditetapkan piloting sekolah ramah anak itu untuk pemenuhan hak-hak anak dalam upaya mewujudkan Kota Layak Anak (KLA). Melalui sekolah ramah anak yang merupakan bagian integrasi komitmen dan pengembangan sumber daya pemerintah secara terencana, untuk menjamin terpenuhinya hak anak.
“Upaya yang dilakukan dengan penetapan sekolah ramah anak ini, maka melindungi dan menjamin keselamatan anak-anak, baik itu kesempatan belajar dan pengelolaan pendidikan terus dilakukan,” katanya, Kamis (26/7/2018).
Piloting sekolah ramah anak ini berdasarkan verifikasi lapangan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan.
“Sebelumnya, pihak dinas melakukan verifikasi terlebih dahulu, kemudian piloting dilakukan untuk dijadikan sekolah ramah anak. Selanjutnya pembangunan hak anak wajib melakukan pembinaan, agar sasaran piloting SRA benar-benar memenuhi persyaratan sebagai sekolah ramah anak,” papar perempuan yang disapa Yuyun, ini.
Menurutnya, jumlah piloting SRA setiap tahunnya bertambah, sehingga upaya memenuhi hak-hak anak terus dilakukan. “Untuk sekolah ramah anak yang sudah mendapatkan penghargaan baru dua sekolah, tapi kalau piloting sekolah ramah sudah banyak yang ditetapkan. Namun, ada 19 sekolah juga sudah diakui terbaik di tingkat nasional,” sebutnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Balikpapan, meyakini sejumlah sekolah yang sudah menjadi piloting SRA memiliki komitmen bagaimana sekolahnya menjadi yang terbaik.
“Hari anak di bulan Juli ini, kita harus memberikan motivasi pada sekolah, baik itu pengajar dan anak-anak. Bagaimana membangun generasi bangsa sesuai karakter bangsa, sehingga sekolah juga membangun karakter pembentukan moral kepada anak-anak, maka akan tumbuh anak cerdas”, kata Rahmad.
Jika sekolah membangun karakter pembentukan moral, katanya, maka anak-anak akan tumbuh menjadi cerdas, pintar dan benar.
“Nah, ini yang kita bangun kepedulian menanamkan pendidikan akhlaq dan moral,” tandasnya.
Rahmad optimis, jika pihak sekolah terlibat langsung dan komite peduli anak, maka dipastikan SRA tersebut akan tercapai sebagai pemenuhan hak-hak dan melindungi anak.
Lihat juga...