NEW YORK – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan upaya badan PBB urusan pengungsi Palestina terlalu penting untuk terhenti, dalam upaya menghimpun dana buat badan itu –yang kekurangan dana 250 juta dolar AS.
Ketika berbicara dalam konferensi oleh satu Komite Ad Hoc Sidang Majelis Umum PBB, Guterres memuji badan tersebut, atau UNRWA, atas pekerjaannya di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, program keuangan mikro dan bantuan pangan. Ia menyatakan, semua upaya itu telah dilaksanakan dalam konflik dan kesulitan ekonomi kronis.
Pemimpin PBB tersebut menekankan, jika pihaknya tak bisa membiarkan upaya penting UNRWA terhenti. Sebagaimana dikutip Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Selasa (26/6/2018) siang, Guterres memperingatkan kegagalan untuk menyediakan sumber daya yang sangat diperlukan menyimpan risiko.
“Kesulitan lebih berat buat masyarakat. Keputus-asaan lebih besar buat wilayah itu. Ketidak-stabilan lebih luas buat dunia kita”, katanya.
Ia terutama mengenang kontaknya dengan pelajar UNRWA di Jalur Gaza, dan memuji kemampuan mereka untuk berbicara secara fasih dan kematangan mereka mengenai kondisi mereka, serta aspirasi mereka dan keperluan akan perdamaian.
“Kita tak boleh meninggalkan mereka,” kata Guterres, yang mendesak dilancarkannya upaya untuk menjamin makanan dan pendidikan buat pengungsi Palestina.
UNRWA memulai tahun ini dengan kekurangan dana sebesar 146 juta dolar AS, tapi jurang pemisah tersebut bertambah besar akibat Pemerintah AS mengurangi 300 juta dolar sumbangannya.
UNRWA, yang dirongrong krisis, dengan susah-payah mengumpulkan 200 juta dolar AS dari Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab –yang masing-masing menyumbang 50 juta dolar AS– serta Kuwait, Turki, Jepang dan lain-lain, sehingga kekurangan hari ini berjumlah 246 juta dolar AS.
Pierre Krahenbuhl, Komisaris Jenderal UNRWA, mengatakan badan PBB itu benar-benar kehabisan uang untuk pekerjaan daruratnya, tempat pembagian makanan untuk satu juta orang di Jalur Gaza, dari 1,9 juta penduduk daerah kantung Palestina itu, menghadapi resiko kritis dan mendesak.
“Dukungan kesehatan mental di sekolah yang dilaksanakan setelah konflik Israel-Palestina 2014 juga bisa terpengaruh oleh kekurangan dara darurat”, katanya.
Yang juga terancam, kata Krahenbuhl, ialah sebanyak 100.000 orang di Tepi Barat yang terlibat dalam program padat-karya, dan bentuk lain dukungan buat masyarakat.
UNRWA adalah badan bantuan pembangunan kemanusiaan dan bantuan buat pengungsi Palestina dan keturunan mereka.
Badan itu saat ini membantu 5,3 juta orang di Jordania, Lebanon, Suriah serta Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza. UNRWA menyediakan pendidikan buat lebih dari setengah juta anak lelaki dan perempuan serta mengelola 140 klinik yang menangani 3,5 juta kunjungan pasien setiap tahun.
Badan tersebut juga melakukan operasi darurat buat 1,7 juta pengungsi, terutama di Jalur Gaza, Tepi Barat dan Suriah. (Ant)