Udang Terserang Stres, Petambak Tradisional Panen Dini

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Sejumlah petambak udang windu di Kecamatan Sragi dan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan melakukan panen dini. Hal itu dilakukan karena udang mengalami stres.

Salah satu petambak udang di Desa Bandaragung Kecamatan Sragi Sunanto (33), stres pada udang windu terjadi akibat perubahan cuaca. Cuaca yang didominasi hujan dan panas menjadi pemicu serangan penyakit tersebut.Udang windu biasanya dipanen pada usia 5-6 bulan.

Sementara karena stres, udang windu milik Sunanto dipanen pada usia empat bulan. Usia panen tersebut diakuinya masih seharga Rp47.000 perkilogram dengan size 100. Sementara pada kondisi normal, harganya bisa mencapai Rp150.000 perkilogram pada size 30.

“Kami lakukan panen dini karena akibat stress pada udang windu sebagian udang mati agar tidak mengalami kerugian terpaksa dipanen meski produksi tidak maksimal,” terang Sunanto salah satu satu petambak udang tradisional di Kecamatan Sragi saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (5/6/2018).

Sunanto menyebut, pada masa tebar benur (benih udang) perhektar lahan ditaburi 5.000 benur. Sesuai dengan perhitungan pada usia panen lima bulan bisa menghasilkan sekitar lima kuintal perhektar. Namun akibat panen dini dan stres, Sunanto hanya bisa memanen tiga kuintal.

Hasil yang tak maksimal tersebut membuat dirinya merugi karena produksi dan harga jual tidak sesuai dengan biaya modal. Selain faktor udang windu terkena stres, dalam proses budidaya, Sunanto memastikan kendala libur panjang jelang hari raya Idul Fitri membuat sejumlah perusahaan pengekspor udang libur.

Sejumlah distributor telah memberi batas waktu selama angkutan lebaran kendaraan ekspedisi tidak beroperasi. Imbasnya petambak udang memilih memanen dan menjual udang lebih cepat sebelum waktunya. “Kerugian tentunya ada karena size udang yang dipanen belum memasuki harga yang tinggi, tapi daripada rugi lebih banyak terpaksa dijual lebih awal,” beber Sunanto.

Selain stress akibat cuaca,  petambak juga mengalami kerugian akibat penyakit bercak putih (white spot disease). Meski demikian dengan kegagalan panen tersebut petambah masih akan melakukan budidaya udang windu setelah Idul Fitri.

Petambak lain Susilo (30) menyebut, panen udang windu di tambak tradisional pada masa tebar awal tahun terbilang tidak sukses. Pasalnya kondisi cuaca yang tak mendukung berimbas pada udang windu yang stres membuat hasil panen menurun. Pemanenan lebih awal membuat sejumlah petambak merugi puluhan juta pada masa panen semester pertama 2018.

Susilo memastikan, permintaan akan udang windu selain untuk kebutuhan pasar lokal juga dilakukan untuk ekspor. Hasil panen udang windu yang belum memenuhi ukuran untuk ekspor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Kebutuhan udang windu banyak diminta sejumlah restoran yang menyediakan menu udang windu.

Lihat juga...