Timur Tengah dan Afrika Utara Hadapi Bahaya Kekeringan
LONDON – Negara-negara di Afrika Utara dan Timur Tengah harus menyiapkan diri lebih baik menghadapi kekeringan. PBB menyebut, Kondisi kekurangan air di kedua wilayah tersebut diproyeksikan akan memburuk.
Lebih dari 40 tahun terakhir, kekeringan telah berlangsung lebih lama dan relatif sering terjadi di kawasan itu. “Lokasi sumber air bersih termasuk di antara paling rendah di dunia,” ungkap Organisasi Pertanian dan Pangan (FAO) PBB, Jumat (15/6/2018).
FAO memperkirakan keadaan akan memburuk akibat perubahan iklim. Kawasan itu harus melaksanakan rencana-rencana kuat menghadapi keadaan terburuk. “Kami perlu mamandang dan mengelola kekeringan secara berbeda, dan beralih dari tanggap darurat ke kebijakan proaktif dan perencanaan berjangka panjang guna mengurangi risiko-risiko dan membangun ketahanan lebih besar,” kata Wakil Kepala Kantor Iklom FAO Rene Castro.
Laporan FAO merekomendasikan dilakukan penanaman tumbuhan yang perlu sedikit air. Penanaman dengan menggunakan sistem irigasi efisien air, atau menurunkan jumlah ternak untuk mencegah banyak konsumsi rumput. Sejumlah desa di bagian barat daya Maroko dekat gurun Sahara juga telah menggunakan proyek pengumpulan uap air yang diproses menjadi air guna mengatasi kekurangan air.
Jumlah penduduk dan tuntutan pangan, ditambah air dan sumber daya tanah yang makin langka, mengakibatkan harga-harga makanan naik dua kali lipat. Kondisi tersebut memicu keresahan sipil di beberapa negara berkembang. “Kelangkaan air sudah mempengaruhi lebih 40 persen penduduk dunia,” demikian laporan Pengembangan Air Dunia tahun 2018 yang dikeluarkan PBB.
Angka itu bisa naik akibat pemasanan global yang terjadi. Dengan satu di antara empat orang diproyeksikan menghadapi kekurangan kronis atau kekurangan lagi di 2050. (Ant)