JAKARTA – Peneliti di Pusat Bedah Jantung Onassis di Athena, Yunani, Konstantinos E Farsalinos, mengatakan metode pengurangan bahaya produk tembakau dinilai dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengurangi jumlah perokok di dunia.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (19/6/2018), dijelaskan, bahwa penggunaan produk tembakau alternatif yang menerapkan konsep dipanaskan bukan dibakar dapat mengurangi komponen atau zat berbahaya yang biasanya dihasilkan dari pembakaran rokok, sehingga potensi risiko kesehatan dari produk ini jauh lebih rendah.
“Sayangnya, masih ada perbedaan yang cukup signifikan antara persepsi masyarakat dan bukti ilmiah. Hasil penelitian yang komprehensif mengenai produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, dan rokok elektrik terkadang cenderung dinilai negatif oleh masyarakat, padahal produk ini memiliki potensi risiko kesehatan yang lebih rendah dari rokok,” kata Farsalinos.
Konstantinos Farsalinos, merupakan salah satu pembicara di acara Global Forum on Nicotine 2018 yang pada tahun ini mengangkat tema ‘Rethinking Nicotine’.
Kajian utama pada acara ini menekankan pada kekeliruan persepsi mengenai nikotin, yang dianggap sebagai zat paling berbahaya pada rokok di masyarakat. Padahal, nikotin bukan penyebab utama dalam penyakit yang disebabkan oleh rokok, melainkan tar.
Selain itu, forum ini juga membahas mengenai penggunaan sains dan teknologi yang diterapkan dalam produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, yang membuktikan, bahwa teknologi memiliki peranan penting dalam membantu pengurangan potensi risiko kesehatan dari rokok.
Dewan Penasihat Himpunan Peniliti Indonesia (HIMPENINDO) yang juga merupakan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Erman Aminullah M.Sc., mengatakan, bahwa meskipun inovasi produk tembakau alternatif mulai banyak bermunculan, pada akhirnya konsumen yang akan memilih produk tembakau alternatif yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kembali lagi kepada tujuan mengapa teknologi itu diciptakan, yaitu untuk membantu dan memudahkan kita dalam melakukan atau menggunakan sesuatu,” kata Prof. Erman.
Untuk produk tembakau alternatif yang menggunakan teknologi dalam pemakaiannya, serta telah didukung oleh penelitian yang kredibel sehingga hasilnya berpotensi lebih rendah risiko dari rokok.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia dan juga anggota Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Prof. Dr. Achmad Syawqie Yazid, mengatakan selain ada peranan teknologi, produk tembakau alternatif juga menerapkan metode pengurangan bahaya.
“Produk tembakau alternatif ditujukan untuk membantu permasalahan merokok di Indonesia. Namun, membutuhkan kepercayaan dan regulasi yang tepat, agar penggunaannya sesuai dengan tujuan utamanya, sehingga regulasi dibutuhkan bukan untuk menutup inovasi produk ini. Saya paham, bahwa memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun sebagai langkah permulan kita bisa mempelajari terlebih dahulu potensi yang dimiliki dan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menguatkan hasilnya,” kata Syawqie. (Ant)