Petani Tembakau di Lombok Kesulitan Air

Editor: Koko Triarko

Safwan (kiri) saat membersihkan rumput kering di tengah tanaman tembakau yang ditanam menggunakan air sumur bor/Foto: Turmuzi
LOMBOK – Musim kemarau yang telah berlangsung selama beberapa bulan, tanpa hujan membuat debit air sungai, embung dan bendungan menyusut tajam. Kondisi tersebut membuat sebagian besar petani Lombok tidak bisa menanam tembakau pada musim tanam tahun ini.
“Sudah hampir mau empat bulan, musim kemarau, tanpa hujan, makanya banyak sungai, embung dan bendungan airnya mengalami penyusutan, bahkan ada yang sudah kering”, kata Safwan, petani tembakau Kabupaten Lombok Tengah, Senin (25/6/2018).
Kalau pun ada air bendungan, katanya, harus menyedot menggunakan mesin disel dengan jarak jauh dan membutuhkan selang panjang mencapai ratusan meter, karena saluran air yang ada sudah banyak yang rusak dan tidak bisa diharapkan.
Di sisi lain, bibit yang telah disemai petani telah tumbuh besar dan menganggur, sebagian bahkan telah rusak dan melewati umur, karena tidak ada air untuk menanam.
“Bibit demikian banyak, tapi karena tidak ada air, akhirnya dibiarkan menganggur dan mengalami kerusakan, karena tidak dirawat”, katanya.
Rohani, petani lain mengatakan, guna menyiasati kelangkaan air tersebut, banyak di antara petani menggunakan air sumur bor. Bahkan, sekarang ini banyak di antara petani mulai membangun sumur bor, baik perorangan atau berkelompok.
“Karena air sungai kering, terpaksa menggunakan air sumur bor untuk kebutuhan rumah tangga, menggunakan mesin listrik”, katanya.
Ditambahkan, untuk mengirit penggunaan air, penyiraman hanya dilakukan pada lubang tempat menanam bibit tembakau tengah sawah yang telah dibuat hingga tanahnya gembur.
Cara tersebut selain dinilai irit penggunaan air, proses penanaman juga lebih cepat bisa dilakukan.
Lihat juga...