Petani Tembakau di Sleman Beralih Tanam Komoditas Lain
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
YOGYAKARTA – Tidak adanya kepastian pemasaran hasil panen tembakau, mengakibatkan sejumlah petani di Kabupaten Sleman enggan menanam komoditas tembakau yang merupakan bahan baku utama industri rokok sejak beberapa tahun terakhir.
Murahnya harga jual daun tembakau, serta minimnya pembeli yang mau menyerap hasil panen tembakau, membuat para petani mulai beralih menanam komoditas lainnya saat musim tanam ketiga musim kemarau, baik itu jagung, cabai, kedelai dan sebagainya.
Seperti terlihat di kawasan Sleman bagian timur, tepatnya di kecamatan Kalasan yang berbatasan langsung dengan kecamatan Manisrenggo, Klaten. Beberapa tahun silam, kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra pengahasil tembakan di kabupaten Sleman.
Selain banyak ditemukan petani tembakau, di kawasan ini juga banyak ditemukan pengepul-pengepul daun tembakau, yang biasa mengolah hasil panen para petani menjadi bahan setengah jadi.
Berupa daun tembakau cacah kering. Setelah menyerap hasil panen petani, para pengepul ini biasanya akan langsung menyetor tembakau setengah jadi ke pabrik-pabrik rokok.
“Saat ini hampir sudah tidak ada lagi pengepul tembakau di kawasan ini. Semuanya tutup. Tidak tahu kenapa, mungkin karena rugi. Selain itu jumlah petani yang mau menanam tembakau juga semakin berkurang. Berganti dengan komoditas lain seperti jagung,” ujar salah seorang warga sekitar, Yeni asal Dusun Randugunting, Senin (23/8/2021).
Hal yang sama juga diungkapkan warga lainnya Maryono. Mantan petani tembakau ini mengaku sudah berhenti menanam tembakau sejak sekitar 3 tahun silam. Rendahnya nilai jual tembakau, serta sulitnya mencari pembeli saat panen, menjadi alasan utama beralih ke komoditas lain berupa jagung.
“Sekarang tembaku murah. Tidak seperti dulu. Selain itu untuk mencari pembeli juga susah. Para pengepul sudah tidak ada. Sehingga harus langsung menjual ke pabrik. Padahal dengan luas tanam yang minim, kita sulit untuk bisa menembus ke pabrik,” katanya.
Maryono pun kini mengaku lebih memilih menanam komoditas lain saat masa tanam ketiga musim kemarau.
Salah satunya adalah komoditas jagung. Jagung dipilih karena dinilai cukup mudah untuk dipelihara, minim perawatan, serta memiliki nilai jual yang cukup stabil, serta pasar yang masih terbuka lebar.