Penumpang Keluhkan Calo yang Kerap Memaksa di Terminal Antarmoda Bakauheni
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Sejumlah penumpang asal Pulau Jawa yang melakukan perjalanan mudik angkutan lebaran 2018/1439 Hijriyah dengan kapal laut yang mulai mengalir dari pelabuhan Merak dan turun di pelabuhan Bakauheni mengeluhkan kurang tertibnya terminal antarmoda di pelabuhan Bakauheni.
Warso (30) salah satu penumpang kapal Dharma Lautan Utama (DLU) yang turun di dermaga tiga menyesalkan aksi para pencari penumpang (calo) di pintu keluar penumpang pejalan kaki. Ia bahkan harus dipaksa untuk naik kendaraan travel meski ia menyebut ingin naik bus.
Aksi puluhan calo yang beraksi di pintu keluar penumpang pejalan kaki turun dari kapal disebut diakui Warso membuat penumpang tidak nyaman. Sebagian calo bahkan sedikit memaksa untuk naik kendaraan yang sudah terparkir di area terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni.
“Sesaat setelah kami turun dari kapal sudah berjajar puluhan calo penumpang bahkan di antaranya menarik barang yang kami bawa padahal saya masih ingin istirahat sembari menunggu bus,” terang Warso salah satu penumpang yang turun di pelabuhan Bakauheni saat ditemui Cendana News, Kemarin malam (7/6/2018)
Keberadaan calo di pintu keluar penumpang pejalan kaki dari angkutan lebaran tahun 2017 disebutnya masih belum berubah. Selain membuat penumpang pejalan kaki dari pulau Jawa tidak nyaman, ia menyebut, penumpang tidak memiliki kesempatan untuk memilih kendaraan.
“Pasalnya saat tiba di pelabuhan Bakauheni sejumlah calo telah menunggu untuk mengarahkan ke kendaraan yang mereka inginkan,”sebutnya.
Selain Warso, penumpang asal Bandung tujuan Gisting bernama Sherly (27) juga mengeluhkan aksi para calo. Mereka langsung mengarahkan ke kendaraan travel meski belum siap berangkat. Barang bawaan berupa tas yang dibawanya langsung dimasukkan dalam bagasi travel dan ia harus menunggu travel penuh oleh penumpang ke tujuan yang sama.
“Nunggu waktu berangkatnya lama sehingga di dalam kendaraan panas, ingin pindah kendaraan barang sudah di dalam travel bahkan calo marah jika saya pindah travel,” keluh Sherly.
Zaidar (35) salah satu pencari penumpang menyebut enggan disebut calo sebab ia memiliki SK resmi dari perusahaan travel. Sejumlah pencari penumpang disebutnya kerap lebih suka dipanggil sebagai penyedia jasa penumpang bagi travel sebab bekerjasama dengan pemilik travel.
Ia bahkan menyebut sejumlah pencari penumpang dibekali dengan seragam dan memiliki tanda pengenal. Tanda pengenal tersebut menjadi penanda status resmi untuk melakukan kegiatan di pelabuhan.
“Meski kami kerap disebut calo namun kami memiliki tugas resmi dan kami memang harus mencari penumpang sebanyak banyaknya,” beber Zaidar.
Zaidar juga menyebut kerap diimbau tidak menarik penumpang apalagi memaksa penumpang untuk naik ke kendaraan yang dimaksud. Saat angkutan lebaran Zaidar menyebut jumlah penumpang yang membludak kerap membuat ia ditarget mencari penumpang dalam jumlah banyak.
Selain mendapat komisi dari perusahaan, dari setiap pengemudi jasa mencari penumpang dihargai Rp5.000 hingga Rp10.000 pe rorang sehingga dalam sehari ia bisa mengumpulkan ratusan ribu dari jasa tersebut.

“Kami juga selalu imbau agar para calo, sebutannya, tidak menarik penumpang, sah saja mencari penumpang asal jangan memaksa,” papar Ivan Rizal.
Sistem pemberlakuan waktu tunggu dan kedatangan kendaraan bus, travel, angkutan pedesaan disebutnya direncanakan akan dijadwal. Sebab tanpa jadwal banyak kendaraan terlalu menunggu di terminal karena penumpang belum penuh.
Angkutan lebaran disebutnya membuat penumpang kerap kehabisan kendaraan sehingga Organda menyiapkan 50 bus cadangan disamping puluhan bus reguler.
Anton Murdianto, General Manager PT.ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni saat dikonfirmasi menyebut akan membenahi terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni. Terminal kedatangan penumpang kapal tersebut diakuinya selama ini masih belum dipisahkan antara area penumpang dan area kendaraan.
Akibatnya sejumlah pencari penumpang masuk di area yang menjadi hak penumpang. Selain itu area kendaraan angkutan umum dan penjemputan pribadi dengan motor dan mobil akan dipisahkan dalam area khusus.
“Kami akan lakukan penataan terminal dengan penyekat khusus agar penumpang bisa menunggu di dalam menunggu kendaraan datang,” papar Anton Murdianto.
Penataan tersebut diakuinya sebagai salah satu solusi untuk menghindari penumpang ditarik pencari penumpang. Sebagai langkah awal pelibatan BKO TNI AL dan kepolisian Resort Lampung Selatan untuk mengamankan area ruang tunggu penumpang pejalan kaki.
Petugas keamanan disebutnya disiagakan mengantisipasi ketidaknyamanan penumpang pejalan kaki kapal yang akan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan bus, travel, angkutan pedesaan, ojek atau dijemput kendaran pribadi.