Penerbangan di Cilacap Belum Terdampak Angin Kencang

CILACAP – Kepala Unit Penyelenggara Bandara Tunggul Wulung Cilacap, Denny Ariyanto, mengatakan, peningkatan kecepatan angin yang terjadi sejak Rabu (20/6) belum berdampak terhadap layanan penerbangan di Cilacap, Jawa.
“Sampai sekarang tidak ada gangguan. Semoga tidak berdampak terhadap layanan penerbangan,” katanya, di Cilacap, Kamis (21/6/2018).
Secara kebetulan, hingga Kamis (21/6), kata dia, belum ada aktivitas pesawat latih karena sekolah penerbangan yang ada di Bandara Tunggul Wulung masih libur.
Sementara untuk penerbangan carter maupun komersial yang dilayani Susi Air menggunakan pesawat jenis Grand Caravan serta Pelita Air dan TransNusa yang menggunakan pesawat jenis ATR 70, tetap berjalan normal.
Disinggung mengenai penumpang selama arus mudik dan balik Lebaran 2018, Denny mengatakan okupansi penumpangnya cukup tinggi.
“Pesawat dari Jakarta tujuan Cilacap dan sebaliknya yang dilayani Susi Air, Pelita, dan TransNusa selalu penuh,” katanya.
Ia mengatakan, okupansi penumpang khusus untuk rute Cilacap-Semarang dan sebaliknya yang dilayani TransNusa dengan pesawat ATR 72-600 yang berkapasitas 50 tempat duduk berkisar 50-60 persen.
Sebelumnya, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika mengimbau warga Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk mewaspadai peningkatan kecepatan angin.
Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan berdasarkan pantauan kecepatan angin maksimum sepanjang Rabu (20/6) tercatat 22 knot dan hari ini (Kamis, 21/6) tercatat 15 knot dari arah timur.
Menurut dia, kecepatan angin tersebut relatif lebih kencang dari biasanya yang berkisar 5-10 knot.
Ia mengatakan, peningkatan kecepatan angin tersebut disebabkan adanya perbedaan tekanan udara yang signifikan antara belahan bumi utara (BBU) dan belahan bumi selatan (BBS).
“Tekanan udara BBS di Australia bagian selatan terpantau tinggi, karena mencapai 1.029 milibar, sedangkan tekanan udara BBU di Samudra Pasifik timur laut Filipina terpantau rendah, karena sebesar 1.009 milibar,” katanya.
Ia mengatakan, perbedaan yang cukup signifikan itu mengakibatkan tiupan angin dari daerah tekanan udara tinggi di Australia bagian selatan ke daerah tekanan udara rendah yang ada di sekitar Filipina menjadi lebih kencang dari biasanya.
Karena itu, kata dia, tiupan angin di wilayah Cilacap dan sekitarnya menjadi lebih kencang dari biasanya dan bisa mencapai lebih dari 20 knot. (Ant).
Lihat juga...