Penelitian Penting Bagi Petani

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Penelitian adalah suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. Usaha-usaha itu dilakukan dengan metode ilmiah sehingga Wahana Tani Mandiri (WTM) sudah mulai mendidik petani untuk menjadi petani peneliti.

Direktru Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung. Foto : Ebed de Rosary

“Wahana Tani Mandiri sebagai organisasi masyarakat sipil dalam kerjasamanya dengan Misereor Jerman bukan hanya berupaya melakukan pengembangan teknis usaha tani, advokasi kebijakan, tetapi juga melakukan penelitian guna menjawab persoalan yang dihadapi petani,” ungkap Direktur WTM Carolus Winfridus Keupung, Selasa (19/6/2018).

Pertanian saat ini dihadapkan pada berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan yang sangat dinamis serta persoalan mendasar seperti makin terbatasnya sumberdaya lahan, air dan energi, perubahan iklim global serta perkembangan dinamis sosial budaya masyarakat.

Persoalan lainnya adalah, masih terbatasnya kemampuan sistem pembenihan dan pembibitan nasional, masih rawannya ketahanan pangan dan energi, serangan hama penyakit pada tanaman, hasil panen menurun dan tingkat kesuburan tanah yang semakin berkurang.

Peran penelitian, menjadi sangat penting untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Terutama penyediaan benih dan bibit unggul bermutu serta teknik budidaya yang lebih maju dan menguntungkan petani, alam dan lingkungan itu sendiri. “Dalam  pertemuan yang dilakukan di aula Pusat Sekolah Lapangan (Puskolap) Jiro Jaro, WTM, 17 petani dampingan WTM menyatakan, siap untuk menjadi petani peneliti. Ke 17 petani peneliti itu terdiri atas 11 orang laki-laki dan 6 orang perempuan dari Kecamatan Magepanda, Tanawawo dan Mego,” beber Win, Selasa (19/6/2018).

Lokasi penelitian, mengambil tempat di kebun atau area halaman milik petani peneliti. Sementara penelitian yang dilakukan di kebun atau area Puskolap Jiro-Jaro akan melibatkan pengelola atau staf WTM. Ada tiga jenis penelitian yang akan dilakukan oleh 17 petani peneliti tersebut.

Diantaranya, Pemuliaan padi dan jagung lokal unggul, Kaji Banding Penggunaan Pupuk Kimia dan Organik dan Kaji Banding Penggunaan Pestisida Organik dan Kimia. Masing-masing petani dan kader memilih jenis penelitian dengan varietas benih dan bibit untuk penelitian.

Kegiatan penelitian yang dibahas dalam pertemuan yang dipimpin oleh Koordinator bidang penelitian WTM Christoforus Gregorius  tersebut, mendapat tanggapan positif dari petani dan kader tani dampingan WTM.

Kamilus Ardi, salah satu peneliti yang merupakan kader tani dampingan WTM menyebut, salah satu penyebab menurunnya mutu dan jumlah hasil panen adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Biasanya hama dan penyakit menyerang tanaman di kebun dan juga hasil panen yang disimpan di lumbung.

Sementara Christoforus Gregorius di sela-sela penjelasannya menerangkan, dalam konteks pembangunan pertanian, peneliti dan penelitian merupakan salah satu faktor yang penting bagi kemajuan pertanian. Baik secara umum maupun dalam sisi perubahan perilaku petani serta peningkatan produksi.

“Penelitian penting untuk efektifitas dan efisiensi usaha tani bahkan ketepatan sasaran dan kebijakan pemerintah terkait dengan pertanian pun tergantung dari sejauh mana kemajuan penelitian,” tegasnya.

Kesimpulan dari hasil penelitian akan diteruskan dengan membuat rekomendasi,  sehingga penelitian yang dilakukan bukan hanya sekedar penelitian untuk mengetahui tetapi penelitian untuk menerangkan. “Kesimpulan dan apa yang diterangkan nanti menjadi langkah baku untuk pengembangan pertanian berkelanjutan yang berpihak pada alam dan petani,” pungkasnya.

Lihat juga...