Kemenperin Bidik 4.000 IKM Ikuti e-Smart 2018

Ilustrasi. Salah satu produk UMKM. Dok: CDN

JAKARTA  – Kementerian Perindustrian menargetkan, sebanyak 4.000 industri kecil dan menengah (IKM) dalam negeri bergabung dalam program e-Smart IKM pada 2018, meningkat dibanding 2017 yang tercatat 2.730 IKM. 

“Kami terus memacu IKM kita agar mampu memasarkan produknya di market place melalui program e-Smart IKM yang merupakan sistem basis data dengan menyajikan berupa profil, sentra, dan produk IKM,” kata Dirjen IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih lewat keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut Gati, pemanfaatan e-Smart IKM juga dapat memberikan jaminan terhadap produk, keamanan dan standarisasi. Sejak diluncurkan e-Smart IKM pada Januari 2017, Kemenperin telah menggandeng sejumlah market place dalam negeri seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli, Shopee, dan Blanja.com.

Dalam mendukung implementasi program tersebut, dilaksanakan pula workshop e-Smart IKM. Peserta yang mengikuti dibekali pelatihan selama dua hari mengenai pengetahuan untuk peningkatan daya saing dan produktivitas usaha serta mendapatkan sosialisasi terkait pemberian fasilitas dari Kemenperin.

“Beberapa materi yang mereka terima, misalnya informasi tentang kredit usaha rakyat (KUR), program restrukturisasi mesin dan peralatan, hak kekayaan intelektual, SNI wajib, kemasan produk, serta strategi penetapan harga,” sebutnya.

Pada hari kedua, lanjut Gati, peserta lokakarya e-Smart diberikan pelatihan untuk cara foto produk, mengunggah foto dan cara berjualan di market place.  Kepada IKM yang hasil produksinya tidak laku dipasarkan di market place, akan dilakukan pembinaan lanjutan agar produk mereka bisa bersaing dengan produk impor yang dipasarkan melalui e-commerce.

“Konsep pembinaan yang kami lakukan di dalam program e-Smart IKM, yaitu kita balik dari hilir ke hulu, karena kita ingin mengetahui dahulu pasarnya, baru kita mengetahui apa yang diproduksi,” paparnya. Gati berharap, program e-Smart IKM pun bertujuan agar market place dalam negeri tidak didominasi dengan produk impor.

“Semoga produk IKM dalam negeri dapat memperluas pasarnya serta dikenal oleh masyarakat nasional maupun internasional,” imbuhnya.

Hingga saat ini, nilai transaksi di e-Smart IKM tercatat lebih dari Rp601 juta, dengan komoditas logam, fesyen, makanan dan minuman yang mendominasi nilai transaksi penjualan online tersebut.

“Komoditas logam menguasai 48,26 persen penjualan dengan nilai transaksi sebesar Rp290 juta, kemudian fesyen 30,72 persen atau Rp184 juta, serta makanan dan minuman 14,01 persen atau Rp84 juta,” ungkap Gati. (Ant)

Lihat juga...