Film Target, Komedi Menegangkan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Bagaimana kalau kita mendapat panggilan kerja, tapi ketika kita datang ke tempat kerja ternyata sebuah gedung kosong, dan kemudian kita masuk dalam jebakan kerja dalam permainan mematikan?
Tentu sangat menakutkan, apalagi kalau teman kita satu per satu menemui kematian dengan cara mengenaskan. Demikian yang mengemuka dari film ‘Target’.
Kisahnya tentang sembilan orang yang mendapat panggilan kerja untuk sebuah proyek film misterius melalui pesan surel (surat elektronik, e-mail). Kesembilan orang itu, Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael dan Anggika Bolsterli.
Profesi mereka berbeda-beda. Raditya Dika sebagai komika, Cinta Laura Kiehl sebagai artis, Samuel Rizal sebagai aktor congkak bertubuh atletis, Willy Dozan sebagai aktor laga legendaris yang kemudian berubah nama menjadi Wince, Abdur Arsyad sebagai komedian, Hifdzi Khoir sebagai komedian, Ria Ricis sebagai YouTuber, Romy Rafael sebagai pesulap dan Anggika Bolsterli sebagai aktris pemberani.
Diceritakan, Cinta adalah mantan kekasih Raditya, yang sama-sama mendapat panggilan kerja dalam proyek film misterius tersebut. Sementara hubungan keduanya tampak belum membaik. Hifdzi menjadi penghubung komunikasi antarkedua orang yang tampaknya masing-masing masih saling mencintai.
Memenuhi undangan kerja tersebut, kesembilan orang itu datang ke tempat kerja yang ternyata sebuah gedung kosong. Mereka baru menyadari kalau masuk dalam jebakan kerja yang tidak karuan juntrungannya.
Seseorang bernama Game Master muncul hanya suaranya, yang memberitahu dalam 24 jam mereka harus mengikuti permainan-permainan mematikan.
Awalnya, mereka diinstruksikan untuk berganti pakaian yang telah disediakan dan menyantap hidangan yang telah tersedia di meja makan. Mereka pun makan, karena makanannya enak dan lezat-lezat, tapi Anggika mengingatkan jangan-jangan makanan itu sudah diberi racun dan dirinya yang duduk persis seperti dalam sebuah film yang diracun.
Lain lagi dengan Hifdzi yang menduga-duga, kalau makanannya diberi obat bius. Dugaan yang tampaknya sekedar kelakar. Tapi, ternyata benar juga, seperti dugaan Hifdzi, makanan tersebut telah diberi obat bius, agar semuanya terlelap. Saat terbangun, mereka telah berada di sebuah gedung tua yang tak terawat, yang ternyata bekas sebuah rumah sakit.
Kesembilan orang dipaksa harus mengikuti instruksi melalui pesan suara yang disampaikan oleh Game Master, dalam sebuah layar di sudut ruangan. Game Master mengancam, kalau ada yang main-main dengan perintahnya, maka akan mati dengan cara tubuh meledak, karena kesembilan orang masing-masing diberi alat khusus yang memicu ledakan.
Mereka menduga, ancaman Game Master itu hanya main-main saja, tapi ternyata benar, karena ternyata mereka memang telah masuk dalam jebakan kerja dengan permainan mematikan.
Terbukti, yang nekat menentang instruksi Game Master, satu per satu dari mereka menemui kematian dengan cara mengenaskan.
Film ini meski bergenre komedi, tapi komedi-thriller, yang begitu sangat menegangkan dari awal hingga akhir. Penonton dibuat panasaran dengan menduga-duga adegan demi adegan yang tak terduga.
Semua penuh ketegangan dan misteri yang sebagaimana dalam filmnya, dalam interogasi dua polisi yang menanyakan salah satu orang dari mereka yang diperban.
Seperti pada film-film sebelumnya, dalam film ini, Raditya Dika juga bermain sebagai aktor utama, menulis skenario dan menyutradarainya. Tugas rangkap tiga itu membuat Raditya dalam film ini tampak keluar dari zona nyaman, karena tidak murni komedi, melainkan bercampur dengan thriller yang membuat penonton tak lagi bisa tertawa lepas.
Ini film ketiga Radit bersama dengan Soraya Intercine Films, setelah Single (2015) dan The Guys (2017).
Sebelumnya, Radit yang dikenal sebagai komika yang berangkat dari buku bergenre komedi ini begitu produktif menulis serial buku dengan judul yang mengandalkan nama-nama hewan, seperti Kambing Jantan, Marmut Merah Jambu dan Manusia Setengah Salmon.
Akting para pemain dalam film ini, seperti ditantang untuk bisa berperan senatural mungkin. Berakting tanpa ada perubahan nama, membuat pemain bebas dan utuh menjadi diri sendiri.
Raditya Dika sebagai komika yang tampak konyol, Abdur Arsyad dengan logat Timurnya, Hifdzi yang identik dengan hobi makan, Cinta Laura dengan aksen bahasa Inggris yang khas, dan Ria Ricis dengan tingkahnya yang tak jauh berbeda saat berada di layar YouTube.
Ada pun humornya ditawarkan dari masing-masing pemain berupa sindiran profesi dalam dialog antarpemain, yang tentu dibutuhkan kecerdasan penonton dalam menyimak humornya.
Sekilas, bumbu humor receh, yang remeh-temeh, di dalamnya memang sedikit menghibur, tapi tidak dalam waktu lama, karena kemudian langsung dibuat tegang ancaman kematian.
Uniknya, dalam film ini mereka harus melawan satu sama lain untuk bertahan hidup, dan melalui perjalanan panjang dengan berbagai tantangan yang harus dipecahkan.
Game ini juga menguji rasa kepercayaan antarpemain. Gagal, nyawa taruhannya. Humornya jadi tenggelam, karena ketegangan demi ketegangan adegan yang lebih dominan.
Penggarapan film ini diakui Raditya Dika, terinspirasi dari game online PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG), yang menyebabkan beberapa adegan perkelahian antarpermain yang sebenarnya cukup menarik.
Tapi, tampaknya Raditya kerepotan sendiri dalam mengeksekusi adegan demi adegan yang biasanya penuh komedi, tapi kali ini begitu sangat menegangkan.
Film ini seperti tidak karuan bentuknya, apakah komedi tapi sepanjang film menegangkan. Meski demikian, film ini menyampaikan pesan moral untuk konsisten dalam bersikap.
Sebagaimana pepatah, karena mulut bisa binasa, begitu juga dalam adegan film ini, kesembilan orang akan mendapat celaka karena perkataannya.
Lihat juga...