48 Hektare Lahan Padi di Khorobera Diserang Tikus

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sebanyak 48 hektare sawah padi dari total luas lahan 87  hektare di Desa Khorobera, Kecamatan Mego, terserang hama tikus dan mengalami kerusakan, sehingga berpotensi terjadinya gagal panen.
“Petugas pengendali hama sudah turun ke lokasi, setelah mendapat laporan warga dan melakukan pengendalian hama tikus dengan menggunakan racun tikus Rodentisida jenis Petrokum 0,05,” sebut Kadis Pertanian Sikka, melalui Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Fransiskus Xaverius, SP., Senin (4/6/2018).
Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan, Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Fransiskus Xaverius, SP. -Foto: Ebed de Rosary
Menurut Fransiskus, 15,75 hektare lahan mengalami kerusakan ringan, 22,35 hektare rusak sedang, dan 3,2 hektare rusak berat. Sisanya, 6,85 hektare mengalami puso, karena rusak parah dan tidak membuahkan hasil.
“Tidak benar kalau Kepala Desa Khorobera menyampaikan, bahwa luas lahan yang terserang seluas 200 hektare. Sebab, luas lahan padi sawah di Desa tersebut hanya 87 hektare saja,” katanya.
Fransiskus mengatakan, padi yang terserang hama tikus berumur di bawah 90 hari. Lahan sawah di Desa Khorobera memang hampir setiap tahun selalu mengalami serangan hama tikus, akibat dekatnya lahan sawah dengan kebun kakao, kelapa dan pisang.
“Terdapat 10 hektare lahan yang mengalami ancaman serangan, sehingga kami sudah melakukan pengendalian hama tikus tersebut, dengan menggunakan racun tikus,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Inocensius Siga, mengatakan, pertugas pengendali hama yang turun ke lokasi tidak menemukan populasi hama tikus, tetapi ditemukan adanya gejala serangan dan lubang aktif.
“Pola tanam yang tidak serentak membuat serangan hama tikus tetap ada, sebab hama tersebut selalu memiliki persediaan makanan. Sanitasi lingkungan juga kurang baik. Rumput-rumput di pematang sawah tidak dibersihkan,” ungkapnya.
Selain itu, tambah Inocensius, semak belukar yang tumbuh di pinggir persawahan memudahkan tikus membuat sarang dan berkembang biak dengan leluasa. Untuk itu, gulma, semak-semak dan pematang harus dibersihkan.
“Harus ada gerakan bersama membasmi tikus dengan memanfaatkan musuh alami seperti anjing, melakukan fumigasi atau penyemprotan gas atau asap serta menggunakan racun tikus rodentisida. Tapi, pola tanam harus serentak untuk memutus rantai makanan hama,” harapnya.
Lihat juga...