Meski Harga Gambir Anjlok, NTP di Sumbar Naik

Editor: Koko Triarko

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat Sukardi/Foto: M. Noli Hendra
PADANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, menyebutkan Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumatera Barat naik sebesar 0,11 persen, dibandingkan bulan April yang hanya 100,27 dan Mei sebesar 101,31 persen. 
Kepala BPS Sumbar, Sukardi, mengatakan secara umum NTP memang mengalami kenaikan, namun untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat seperti gambir berada di harga terendah jika dibandingkan pada beberapa bulan terakhir.
“Tanaman perkebunan rakyat itu, yakni karet, sawit, dan juga gambir. Kalau harga karet dan sawit memang sudah lama turun, tapi untuk gambir memang belum lama ini harganya turun,” ujarnya, Senin (4/6/2018).
Saat ini, khusus harga gambir berada di angka Rp18.000 per kilogram. Padahal, produksi gambir cukup besar di Sumbar, yang berada di daerah Kabupaten Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, Pasaman Barat.
Salah seorang petani gambir yang ada di Nagari Lubuak Alai, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, mengaku bahwa petani gambir tengah mengalami masa-masa suram, karena harga gambir mengalami penurunan drastis, sehingga petani gambir menghadapi keguncangan ekonomi.
Jandri, seorang petani gambir di daerah tersebut, mengatakan saat ini harga gambir berada di angka Rp18.000-Rp25.000 per kilogram. Petani gambir berharap, ada bantuan dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga gambir.
“Kalau pemerintah turut membantu dengan cara kebijakan-kebijakan yang memungkinkan petani gambir dapat menikmati harga yang baik, kami sangat bersyukur,” katanya.
Jandri mengaku, bahwa masyarakat di Nagari Lubuak Alai bergantung kepada hasil panen gambir. Karena di daerah tersebut untuk mengelolah perkebunan gambir, tidak hanya dilakukan secara sendiri, tetapi juga dengan cara berkelompok.
“Terkadang juga ada bertani padi, cuma hal itu hanya sampingan. Karena yang menjadi pekerjaan utama ialah berkebun gambir. Karena hasil penjualannya cukup besar,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, biasanya sehari gambir yang dikelola mampu menghasilkan maksimal 30 kilogram gambir kering. Dengan harga gambir Rp25.000 per kilogram, rata-rata pendapatan petani gambir per bulan hanya Rp5 – 7,5 juta per bulan.
Namun bila melihat pada ketika harga yang pernah mencapai Rp100 ribu per kilogram, penghasilan petani gambir mencapai Rp25 – 30 juta per bulannya.
Jandri juga mengatakan, beberapa tahun lalu ada program TNI menanam padi seluas 7 haktare, namun mengalami gagal karena hama wereng hitam dan saluran irigasi air yang tidak bagus. Kondisi demikian membuat para petani gambir tetap kembali ke perkebunan, dan menghabiskan waktu untuk memanen daun gambir.
“Gambir adalah kehidupan kami di sini, anak-anak kami butuh sekolah yang bisa membuat mereka lebih pintar dan cerdas dibandingkan kami yang saat ini yang hanya mampu berkutat di ladang,” ujarnya.
Lihat juga...