Tim ‘Iseng-iseng’ Menangkan Lomba Vignette Asian Games 2018
Editor: Satmoko
JAKARTA – Tim ‘Iseng-iseng’ dari Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Bina Nusantara (Binus) University, dinyatakan sebagai pemenang Lomba Vignette – Asian Games 2018 yang digelar Departemen Broadcast INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee) kerjasama dengan International Games Broadcast Services (IGBS).
Tim yang terdiri dari Diandra Prametisari Palolessy, Obelia Simone, dan Sufyan Tsaurie ini membuat animasi mereka terinspirasi dari semangat Asian Games 1962 yang akan dibawa pada Asian Games 2018.
Atas kemenangannya mereka bertiga masing-masing mendapat hadiah hp dan mendapat kesempatan ke London untuk belajar di National Film and Televisi School serta meninjau lokasi produksi dari mitra pelaksana Asian Games 2018.
“Nggak nyangka kita bisa menang,“ kata Diandra Pramestisari Polosessy mewakili Tim Iseng-iseng dari Bina Nusantara (Binus) University, seusai dinyatakan sebagai pemenang lomba Vignette – Asian Games 2018 di Cendrawasih Room 3, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (12/5/2018).
Diandra mengungkapkan ide ceritanya didapat dari pengalaman orang tuanya saat Asian Games tahun 1962.
“Saya bertanya pada bapak saya, bagaimana dulu mengikuti perkembangan Asian Games 1962. Dimana saat itu bapak saya mengetahui perkembangan berita Asian Games 1962 dari sebuah radio yang dimiliki seorang saja di desanya,” ungkapnya.
Dari cerita itulah, Diandra dan dua rekannya, yaitu Obelia Simone dan Sufyan Tsaurie, mencoba untuk membuat film pendek berdurasi 30 detik. “Kita ikut lomba ini juga sebenarnya diminta dosen,” bebernya.
Diandra memaparkan sebenarnya mereka sedang magang. Karena mereka bertiga background-nya sama-sama animasi jadi mereka membuat film animasi.
“Dari 56 film yang masuk ke panitia, hanya film kita yang animasi. Jadi hanya ada dua pilihan, menurut saya, pasti menang atau pasti kalah. Tapi akhirnya satu-satunya film animasi ini yang keluar sebagai pemenang,” ucapnya bangga.
Dalam membuat animasi berdurasi 30 detik itu mereka bertiga mengerjakan sekitar sebulan dengan berbagi tugas.
“Saya yang membuat gambar background dan mewarnai tiap karakternya. Sedangkan Obel yang mendesain karakter dan membersihkan setiap frame, dan Sufyan yang mengerjakan secara utuh finishing animasinya,“ paparnya.
Alasan memilih animasi karena bagi mereka yang paling memungkinkan waktunya cukup untuk mengerjakan dan merasa tidak ada pilihan lainnya.
“Passion kami memang animasi dan kapan lagi menunjukkan karya kalau tidak sekarang ini,“ tegasnya.
Diandra mengaku tidak ada referensi dalam membuat karya animasi.
“Kami melihat iklan-iklan yang memorable dan memperlajari kekuatan iklan hingga dapat diingat dari dulu sampai sekarang,“ tandasnya.