Ratusan Karateka Ikuti Turnamen Karate di Penengahan

Editor: Satmoko

LAMPUNG – Ratusan karateka dari berbagai dojo (tempat latihan) olahraga bela diri karate mengikuti turnamen karate antar dojo di kecamatan Penengahan.

Suparno, selaku wakil ketua turnamen karate antar dojo mendampingi Sugeng Hariyono selaku ketua panitia menyatakan, pertandingan tersebut melibatkan sebanyak sembilan dojo yang ada di Lampung Selatan. Total peserta yang mengikuti turnamen karate berjumlah 125 karateka dari tingkat SD hingga SMA.

Berdasarkan data dojo yang terlibat dalam turnamen meliputi dojo Bakti Ibu, SDN 3 Pasuruan, Gedung Harta, Anak Singkong, Tanjung Heran, SDN 2 Pasuruan, dojo Tanjung Heran, SDN 2 Pasuruan, SDN 1 Pasuruan, Second, dan dojo Laskar Khushanku Citra.

Suparno, wakil ketua panitia turnamen karate antar dojo sekecamatan Penengahan [Foto: Henk Widi]
Kelas yang dipertandingkan dalam turnamen karate tersebut di antaranya kelas kata perseorangan putra dan putri untuk SD, kelas komite putra dan putri untuk SD dengan berat badan kurang dari 25 kilogram, serta kurang dari 35 kilogram dan lebih dari 35 kilogram hingga SMA, dengan sebanyak 38 trophy dan piagam disediakan.

“Selain kelas kata perseorangan dan komite, pada pertandingan turnamen karate ini kami sediakan juga trophy untuk pemain favorit sebagai penyemangat bagi para karateka yang berasal dari beberapa dojo,” terang Suparno, selaku wakil ketua panitia turnamen karate antar dojo se-Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Sabtu (12/5/2018).

Penyelenggaraan di gedung SMP PGRI tersebut diakui Suparno merupakan kegiatan pertama kali yang digelar oleh Kampung Literasi desa Pasuruan kecamatan Penengahan.

Kampung Literasi sengaja menyelenggarakan kegiatan turnamen cabang olahraga karate sejak dini dengan tujuan untuk meningkatkan minat anak akan olahraga karate tersebut.

Para peserta kata perseorangan menunggu giliran untuk mengikuti pertandingan [Foto: Henk Widi]
Selain sebagai kampung yang menekankan budaya membaca di setiap rumah melalui penyediaan rak buku, keberadaan dojo Anak Singkong juga sebagai upaya menjaring bibit berprestasi dalam cabang olahraga bela diri.

Suparno menyebut, kegiatan turnamen karate antar-dojo di kampung literasi juga mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serta sejumlah perusahaan.

Melalui kegiatan turnamen antar-dojo sekaligus menjadi upaya meningkatkan kemampuan para siswa yang berminat akan olahraga di bawah Federasi Olahraga Karatedo Indonesia (FORKI). Berdasarkan rentang usia para peserta dalam turnamen antar dojo tersebut diikuti oleh anak usia 10 tahun hingga 17 tahun.

Ryan Haikal, Kepala Staf Pelatih (Kestapel) di Bandung Karate Club (BKC) ranting khusus Bakauheni menyebut, iven tersebut merupakan ajang silaturahmi antar-dojo dan upaya untuk menjaring bibit berprestasi pada cabang olahraga karate.

Ryan Haikal, Kepala Staf Pelatih Bandung Karate Club Bakauheni sekaligus panitia dalam turnamen karate antar dojo [Foto: Henk Widi]
Diakuinya selama ini latihan hanya digelar di setiap dojo dan turnamen diharapkan mampu mengasah kemampuan karateka saat berhadapan dengan karateka dari dojo lain.

Ryan Haikal juga menyebut, pelaksanaan turnamen karate tersebut merupakan persiapan untuk iven nasional dan internasional di antaranya pra Asia Karate Federation (AKF) di Batam.

Kegiatan tersebut sekaligus upaya pengkaderan atlit karate dari Lampung Selatan yang beberapa di antaranya sudah mengikuti iven nasional. Di antaranya Rizki Yulian Putri (14) siswa SMPN 1 Bakauheni yang sudah mengikuti kejuaraan nasional di Bandung Karate Club 2016, dan 3rd BKC Open International Championship 2017 di Batam dengan medali emas.

Selain Rizki Yulian Putri, atlet berprestasi dalam cabang olahraga Karate di wilayah kecamatan Penengahan yang sudah ikut ajang nasional di antaranya Rani Oktasari (22) yang menjadi juara pertama dalam Batam Inkado Open dengan perolehan medali emas dan best of the best atlet, mewakili Bandarlampung dalam Porprov VIII dengan perolehan medali emas AKF di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Berbagai jenjang usia masih berpotensi berkembang dengan berbagai kelas diharapkan bisa muncul pada ajang ini, sekaligus regenerasi karateka,” papar Ryan Haikal.

Ajang tersebut sekaligus menjadi pengasah kemampuan para tim wasit dalam olahraga karate. Sebab semakin kerap dilakukan turnamen karate, maka kemampuan para juri akan semakin terasah dengan melakukan penilaian objektif dalam setiap kelas yang dipertandingkan.

Rizky Yulian Putri, salah satu karateka usia SMP yang sudah mendulang prestasi nasional hingga internasional menyebut, masih mengikuti ajang turnamen antar dojo tersebut.

Puput, demikian ia dipanggil, menjadikan turnamen tersebut sebagai sarana untuk berlatih. Sebab latihan rutin yang kerap dilakukan akan semakin mengasah kemampuan dirinya sebagai karateka usia SMP yang sudah mengikuti kelas kata dan komite.

Kegiatan tersebut diakuinya sekaligus ajang silaturahmi sehingga bisa bertemu dengan sesama rekan dari dojo lain yang memiliki minat akan olahraga karate.

Lihat juga...