Pokdakan di Kulon Progo Panen Dini Gurami dan Nila
KULON PROGO – Kelompok budi daya ikan di enam kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memanen dini atau panen prematur ikan gurami dan nila karena kekurangan air akibat dimatikannya saluran irigasi Kalibawang sejak 15 April hingga akhir Juli.
Kepala Bidang Pembudidayaan Ikan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Leo Handoko di Kulon Progo, Minggu, mengatakan ada enam kecamatan yang produksi ikannya mengalami kekurangan air, yakni Kecamatan Kalibawang, Nanggulan, Girimulyo, Sentolo, Pengasih dan Wates.
“Dampak dimatikannya jaringan irigasi Kalibawang, budi daya ikan bersisik mengalami gangguan produktivitas. Pembudi daya terdampak mau tidak mau akan melakukan panen prematur karena ketersediaan air tidak ada,” kata Leo.
Ia mengatakan di enam kecamatan tersebut semuanya memiliki tingkat kekeringan yang berbeda. Di Girimulyo, Pengasih, dan Wates, hanya 20 persen proses budi dayanya terganggu, tetapi untuk Kalibawang, Nanggulan, dan Senotolo 80 persen terganggu.
Jaringan irigasi Kalibawang sangat vital bagi budi daya perikanan, khususnya ikan bersisik seperti nila dan gurami yang membutuhkan air secara berkala. Untuk itu, DKP melarang pembudidaya sementara waktu untuk tidak membudidayakan jenis ikan tersebut.
“Kami minta mereka budi daya lele kalau dimungkinkan. Tapi kalau tidak ada air, untuk sementara waktu kolam dikosongkan,” katanya.
Leo mengatakan kelompok budi daya ikan (pokdakan) sudah melaporkan panen dini ikan gurami dan nila. Hal ini mengganggu target produksi ikan pada 2018.
“Kemungkinan produksi ikan sedikit menurun, tapi tidak masalah. Yang terpenting, pembudidaya tidak merugi akibat dimatikannya jaringan irigasi Kalibawang,” katanya.
Sementara, Kepala DKP Kulon Progo Sudarno mengatakan pihaknya akan mengejar produktivitas ikan sisik di triwulan ke IV.
Menurut dia, target produksi ikan pada 2018 akan tercapai dengan menambah luas tebar, dengan sistem mina padi. Rencananya, sistem mina padi akan dilaksanakan di Kecamatan Pengasih dan Nanggulan dengan luas lebih dari enam hektare.
“Kami akan menggalakkan sistem mina padi guna mengejar target produksi 2018. Kami optimistis, lahan mina padi seluas enam hektare mampu menghasilkan empat sampai lima ton untuk per hektarenya,” katanya. (Ant)