Petani Bunga Telasih Raup Berkah di Bulan Ruwah
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, sejumlah petani bunga selasih atau telasih di Bantul, menuai untung besar. Tanaman bunga telasih laris manis dibeli masyarakat yang hendak melakukan tradisi Nyekar atau ziarah ke makam leluhur.
Nur Widi Utomo (80), seorang petani bunga selasih di Selarong, Pajangan, Bantul, mengaku mulai menjual bunga selasih yang dihasilkan dari lahan pekarangan miliknya sejak awal bulan Ruwah. Bersama anaknya, setiap hari ia membawa bunga selasih untuk dijual ke pasar Beringharjo Yogyakarta.
“Saya mulai tanam sejak tiga bulan lalu, karena dari sebar biji sampai panen butuh waktu tiga bulan. Memang sengaja dipaskan, agar panen saat bulan Ruwah. Karena bunga ini hanya laku saat bulan Ruwah saja,” katanya, Rabu (9/5/2018).
Dalam sehari, Nur mengaku mampu menjual hingga 400 ikat bunga selasih yang dikenal harum dan berwarna keunguan itu. Dengan harga per ikat Rp5.000, Nur mengaku bisa mengantongi pemasukan hingga Rp2 juta per hari.
“Untuk tahun ini harganya termasuk murah. Hanya Rp5 ribu per ikat. Kalau tahun lalu, harganya mahal. Bisa sampai puluhan ribu, karena memang tidak banyak yang panen,” kata wanita yang mengaku sudah menjadi petani sekaligus penjual bunga selasih sejak masih berumur 20 tahun itu.
Bunga selasih merupakan bunga yang kerap digunakan untuk dibawa ke makam saat berziarah. Nama selasih kerap diartikan sebagai kepanjangan dari ucapan bahasa Jawa yakni ‘tapak tilas’e isih, artinya masih adanya bekas jejak.
“Untuk penanamanya gampang-gampang susah. Biasanya disemai dari bijinya. Setelah tiga bulan bisa panen. Tapi sepertinya tanaman lainnya, tetap harus dipupuk dan disiram,” katanya.