Pemerintah Imbau Produsen Pempek tak Gunakan Pengawet

Ilustrasi. Pempek. Dok: CDN

PALEMBANG  – Pemerintah Kota Palembang mengimbau pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah pempek untuk tidak menggunakan bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan.

Pjs Wali Kota Palembang Akhmad Najib di Palembang, Minggu, mengatakan, imbauan ini karena kuliner khas Palembang pempek ini mengalami kemajuan pesat menjelang Asian Games XVIII tahun 2018.

“Jangan sampai, lantaran tersebar isu bahwa pempek mengandung bahan pengawet membuat momentum memperkenalkan kulinet khas daerah ini menjadi terbuang percuma. Untuk itu, kami mengimbau pelaku UMKM menggunakan bahan-bahan alami, karena secara alamiah, pempek bisa bertahan selama dua hari jika dikemas dengan baik,” kata Najib.

Ia mengatakan, berdasarkan data terbaru diketahui produksi pempek mencapai 6,4 ton hingga tujuh ton per hari untuk memenuhi kebutuhan “oleh-oleh” para pendatang dan penjualan di dalam kota.

“Bisa dikatakan dengan volume mencapai tujuh ton per hari ini, sudah melebihi bakpia,” kata Najib.

Ia mengatakan permintaan ini diperkirakan melonjak tajam saat perhelatan Asian Games XVIII tahun 2018 yang berlangsung pada 18 Agustus-2 September mendatang.

Kota Palembang yang menyelenggarakan 13 cabang olahraga diperkirakan bakal kedatangan atlet dan pendamping berjumlah 15 ribu orang.

Untuk itu, Pemerintah Kota Palembang telah berkoordinasi dengan asosiasi pempek untuk memenuhi kebutuhan para tamu negara pada saat Asian Games mendatang.

“Pada dasarnya pengusaha pempek di Palembang sudah menyanggupi. Apalagi mereka juga sudah didukung teknologi pengemasan berupa plastik kedap udara sehingga pempek bisa tahan hingga dua hari untuk dibawa pulang ke negara masing-masing peserta,” kata dia.

Melalui ajang Asian Games ini, Pemerintah Kota Palembang mendorong makanan khas daerah pempek ini bisa “go international” untuk meningkatkan perekonomian sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Pempek ini sudah dikenal di Indonesia, artinya target selanjutnya menembus pasar Asia dan dunia. Sejauh ini pesanan pempek sudah banyak dari kawasan Asia Tenggara yang dapat dijadikan salah satu indikator bahwa makanan ini bercita rasa internasional,” kata dia.

Makanan khas Palembang berbahan utama ikan ini memiliki pasar yang cukup menjanjikan seiring dengan berkembangnya belanja “online”.

Dalam dua tahun terakhir bermunculan bisnis pempek “online” karena persoalan pengiriman sudah tidak menjadi masalah. Kuliner ini dapat dikemas dengan cara divakum sehingga dapat awet selama pengiriman.

Salah satunya, bisnis pempek “online” PT Pos Indonesia yang bertumbuh pesat hingga tiga kali lipat sejak mulai diluncurkan pada 2012, yakni dari 1-2 ton per bulan menjadi 7-8 ton per bulan pada 2017. (Ant)

Lihat juga...