Pembudidaya Ikan Air Tawar Manfaatkan Potensi Limbah Pertanian dan Kiambang

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan, pembudidaya ikan air tawar di Lampung Selatan memanfaatkan potensi pakan buatan dan kiambang.

Salah satu pemilik usaha budidaya ikan air tawar di desa Pasuruan kecamatan Penengahan, Edi Gunawan (30) menyebutkan, penggunaan pakan pabrikan harus mengeluarkan modal yang cukup besar. Satu kali musim tebar benih hingga panen ia membutuhkan sekitar 1 ton pakan atau sebanyak 20 karung pelet dengan kisaran pengeluaran hingga Rp3,5juta.

Belajar dari pengalaman budidaya ikan air tawar, ia menyebut, terus melakukan inovasi dalam pembuatan pakan.

“Terakhir saya melakukan proses pembuatan pakan dengan bekatul padi dicampur dengan bahan lain yang dikenal dengan pakan probiotik dan terbukti mengurangi biaya,” terang Edi Gunawan yang ditemui Cendana News di kolam terpal miliknya, Selasa (7/5/2018).

Bahan pembuatan pakan organik dari limbah pertanian seperti ampas tahu, dedak halus, tepung ikan, gula pasir dan ragi tempe. Semua bahan diolah sedemikian rupa dengan proses fermentasi, selanjutnya disimpan selama beberapa hari.

Selain menciptakan pakan dengan bahan limbah pertanian, Edi Gunawan juga mulai melirik tumbuhan air jenis lemna minor (kiambang) yang semula dikenal hanya sebagai gulma di kolam kolam ikan tanah dekat area persawahan.

Tanaman akuatik tersebut selanjutnya mulai dikembangkan di kolam terpal yang memiliki fungsi sebagai pakan alami untuk jenis ikan herbivora jenis nila, gurame dan mujair.

“Saya awalnya meminta bibit dari pembudiaya ikan lain dan sebagian membeli secara online dari situs jual beli,” terang Edi Gunawan.

Nutrisi yang cukup pada lemna minor membuat pakan alternatif tersebut disukai ikan air tawar. Khusus untuk ikan lele, lemna minor terlebih dahulu dikeringkan dan dicampur dengan bahan lain sementara untuk ikan nila diberikan langsung dalam kolam.
Proses pemeliharaan lemna minor dilakukan menggunakan jaring strimin khusus tepat di atas kolam terpal sehingga sekaligus bisa menjadi penutup.

“Lemna minor yang saya kembangkan sebagai pakan alternatif pengganti sehingga pemberian pakan bisa lebih ditekan,”terang Edi Gunawan.

Masa panen lemna minor yang memiliki ciri khas warna hijau dan mengambang tersebut dilakukan sepekan sekali.

Budidaya kiambang
Edi Gunawan, pembudidaya ikan air tawar jenis nila, mujair dan lele memberi pakan buatan sendiri dan pakan alami dari jenis kiambang (lemna minor) di kolam terpal [Foto: Henk Widi]
Melalui penggunaan pakan alternatif tersebut budidaya ikan yang dilakukan oleh Edi Gunawan tidak hanya tergantung dari pakan pabrikan. Meski belum mengurangi dalam jumlah banyak namun efesiensi pakan sudah terlihat.

Soad, salah satu pembudidaya ikan untuk benih menyebut kiambang atau lemna minor dan lumut masih menjadi pakan alternatif yang menguntungkan. Selama ini pemberian pakan untuk indukan ikan air tawar jenis emas, mujair, nila mengandalkan dedak dan pakan pelet pabrikan.

Setelah membudidayakan lemna minor dan lumut, pembenih ikan di desa Bandaragung kecamatan Sragi tersebut mulai bisa menekan penggunaan pakan buatan pabrik.

“Pada dasarnya ikan air tawar umumnya memang herbivora dan memakan lumut dan tumbuhan air, namun kerap susah dicari,” bebernya.

Adanya pembudidaya yang mengembangkan lumut dan lemna minor atau kiambang diakuinya belum dikenal luas sebagai sumber pakan. Soad bahkan mulai berburu jenis pakan alami lain berupa lumut dan kiambang serta azola yang kerap tumbuh di genangan air tepi sungai Way Sekampung dan area pertambakan yang sudah tidak terpakai.

Selain dipergunakan untuk pakan ikan jenis tumbuhan air tersebut disebutnya bisa untuk pakan unggas jenis bebek dan entok yang dimilikinya.

Lihat juga...