Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya. -Foto: Sultan Anshori
DENPASAR — Semakin banyaknya fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) seperti rumah sakit, puskemas dan klinik di Bali, menyebabkan sampah medis yang dihasilkan sangat tinggi. Dalam tempo sehari, limbah medis yang dihasilkan mencapai tiga ton.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, menjelaskan, Bali setidaknya memiliki 60 rumah sakit, 120 puskesmas, dan 200 klinik swasta. Daerah penghasil limbah medis terbanyak di Kota Denpasar, sementara daerah terendah di Kabupaten Karangasem.
“Semua fasilitas kesehatan pasti menghasilkan limbah medis. Paling banyak tentu Kota Denpasar, karena ada rumah sakit Sanglah dan beberapa rumah sakit besar swasta lainnya”, kata dokter yang akrab disapa Suarjaya ini, Jumat (25/5/2018).
Suarjaya menambahkan, saat ini di Bali belum ada tempat khusus untuk mengolah limbah medis, karena terkendala faktor perizinan dari pusat. Untuk sementara, pengolahan limbah medis dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu dikirim ke Jawa Barat.
Menurut Suarjaya, sebenarnya rencana pembagunan tempat pengolahan limbah sudah dibahas sejak dulu. Namun, karena terkendala proses perizinan yang ketat darii Kementerian Lingkungan Hidup, akhirnya proyek tersebut tak kujung terealisasi hingga sekarang.
Rencananya, jika perizinan tersebut keluar, maka dua tempat yang akan dijadikan rujukan, yaitu di Jembrana dan Buleleng. “Karena izinnya sangat sulit dari pusat. Kami sampai saat ini belum bisa memenuhinya. Izin tersebut seperti izin prinsip, amdal dan proses perizinan lainnya”, imbuh Suarjaya.
Namun, ia berharap, di Bali bisa segera dibangun tempat pengolahan limbah medis, karena selain faktor kebersihan juga faktor keamanan linkungan yang menjadi fokusnya.
Juga mengingat limbah medis ini termasuk dalam kategori bahan berbahaya beracun (B3), sehingga membutuhkan pengolahan yang tepat.
“Selain itu, manfaat lain dengan dibangunnya tempat pengolahan limbah medis tersebut, juga akan berdampak pada nilai ekonomis”, katanya.
Sementara ini, baru ada satu rumah sakit yang mempunyai mesin pengolahan limbah medis sendiri, yaitu Rumah Sakit Sanglah Denpasar, dengan mesin incenerator.