IKM Diharap Mampu Masuk Ekosistem Pasar Digital

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sektor industri menjadi salah satu pilar ketahanan ekonomi nasional, mengingat pertumbuhan industri saat ini sebesar 4,84 persen, dan kontribusi industri pengolahan nonmigas pada PDB mencapai 17,88 persen.

“Karenanya, industri kecil dan menengah (IKM) yang jumlahnya mencapai 4,5 juta harus berperan aktif dalam menggerakkan perekonomian nasional. IKM merupakan salah satu penyokong sektor industri“, tegas Endang Suwartini, Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, pada acara pembukaan Workshop e-Smart IKM di Yogyakarta, Selasa (8/5/2018).

Endang Suwartini, Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, -Foto: Ist.

Untuk itu, lanjut Endang Suwartini, IKM harus update dalam teknologi digital, salah satunya melalui program e-Smart IKM. Selain itu, e-Smart IKM juga akan menjadi sistem database yang tersaji dalam profil industri, sentra, dan produk yang nantinya akan menjadi salah satu bahan analisa pembuatan kebijakan dalam pembinaan IKM.

“Salah satunya data kebutuhan bahan baku, produk unggulan yang berorientasi ekspor, teknologi dan mesin-mesin yang dibutuhkan, dievaluasi dari database yang dibangun dalam e-Smart IKM ini”, katanya.

E-Smart IKM ini, lanjutnya, juga merupakan salah satu langkah Kementerian Perindustrian dalam menyiapkan implementasi Industri 4.0, di mana Industri 4.0 memanfaatkan sepenuhnya teknologi informasi dan komunikasi dalam rantai nilai, guna mencapai efisiensi yang maksimal.

“Harapannya dengan program ini, IKM mampu membuka akses pasar dan masuk dalam ekosistem ekonomi digital”, kata Endang.

Sementara itu, Workshop e-Smart IKM diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (DItjen IKM) Kementerian Perindustrian, bekerja sama dengan marketplace besar di Indonesia, yaitu Bukalapak, Tokopedia, dan BliBli.

Sebanyak 100 IKM berasal dari sektor logam, mesin, dan furniture, mengikuti Workshop e-Smart IKM ini, yang bertujuan memperluas akses pasar IKM.

“Produk dalam negeri buatan IKM berkualitas baik dan berdaya saing, sehingga sudah saatnya menjadi raja di marketplace Indonesia”, kata Direktur IKM LMEA, tersebut.

Selama dua hari mengikuti workshop, pelaku IKM belajar berbisnis melalui sarana e-commerce dan mendapatkan sosialisasi program-program Kementerian Perindustrian, seperti restrukturisasi mesin peralatan dan SNI.

Selain itu, untuk pemantapan, diberikan materi strategi pemasaran online dari IdEA dan pengembangan produk seperti desain, kualitas dan teknologi, juga diperkenalkan aplikasi pencatatan keuangan dari Bank Indonesia.

“Workshop e-Smart ini juga merupakan salah satu tindak lanjut dari Peraturan Presiden nomor 74 tahun 2017, tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce), yaitu membawa IKM masuk e-commerce”, jelas Endang.

Sejak diluncurkan pada 27 Januari 2017, workshop e-Smart IKM telah diikuti oleh 1.730 peserta dan membukukan nilai transaksi online lebih dari Rp320 juta.

“Tahun ini target kami 4.000 IKM di seluruh Indonesia ikut e-Smart IKM, sehingga ditargetkan ada 12.000 produk IKM masuk dalam marketplace”, pungkasnya.

Lihat juga...