Harga Beli di Atas HPP, Petani Padi Diuntungkan

Editor: Satmoko

LAMPUNG – Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah yang ditetapkan pemerintah senilai Rp3.700 per kilogram sudah cukup menguntungkan.

Demikian diungkapkan oleh Hendra (40) salah satu petani padi di desa Ruang Tengah kecamatan Penengahan Lampung Selatan.

Ia menyebut saat ini harga jual Gabah Kering Panen (GKP) mencapai Rp4.250 per kilogram dan Gabah Kering Giling (GKG) mencapai Rp5.500 per kilogram. Harga pada angka tersebut terbilang rendah dibandingkan satu bulan sebelumnya yang pernah mencapai Rp5.000 per kilogram untuk GKP di tingkat petani.

Puncak masa panen dimana sebagian besar lahan pertanian sawah di kecamatan Palas, Penengahan, Sragi dan wilayah lain di Lampung Selatan diakuinya membuat harga turun sekitar Rp300 per kilogram.

Para pekerja melakukan proses pengangkutan gabah kering panen sebelum dijual ke pembeli [Foto: Henk Widi]
Saat ini harga bahkan disebutnya bisa turun di angka Rp4.100 dengan memperhatikan kualitas GKP yang dihasilkan. Panen puncak bersamaan yang disertai dengan serangan lembing dan kerusakan akibat angin serta hujan membuat kualitas GKP menurun.

“Pembeli biasanya mengecek kualitas gabah kering panen jika banyak cacat berupa gabah berwarna hitam dan kurang berisi harganya bisa lebih murah. Sehingga ada alat khusus untuk pengecekan termasuk melihat kadar air gabah saat dibeli,” terang Hendra, salah satu petani gabah di desa Ruang Tengah, saat ditemui Cendana News, Sabtu (5/5/2018).

Hendra menyebut, meski harga penjualan gabah saat ini mulai menurun dibandingkan penjualan sebulan lalu, harga tersebut diakuinya sudah di atas HPP.

Hendra, salah satu petani di desa Ruang Tengah kecamatan Penengahan menunggu gabah miliknya diangkut oleh pembeli [Foto: Henk Widi]
Merujuk pada HPP yang ditetapkan sebesar Rp3.700 petani bahkan masih memiliki keuntungan Rp500 per kilogram atau sebesar Rp5000 per kuintalnya jika dibeli dengan harga Rp4.200 per kilogram.

Harga tersebut disebutnya dipengaruhi oleh faktor kualitas gabah kering panen, lokasi lahan panen yang berkaitan erat dengan biaya produksi dan distribusi.

Hendra menyebut, meski harga mencapai Rp4.200 dengan asumsi per kuintal gabah kering panen mengeluarkan upah Rp20.000 per kilogram, ia masih memiliki keuntungan sekitar Rp30.000.

Selama ini dengan lahan sawah berada setengah kilometer dari akses jalan utama membuat ia harus memanfaatkan buruh panggul. Buruh panggul disebutnya dibayar dengan estimasi per kuintal Rp20.000 atau satu ton dibayar Rp200 ribu per orang. Biaya pasca panen tersebut diakuinya dihitung belum termasuk biaya penyiapan bibit, pupuk, obat-obatan serta perawatan.

“Hasil yang kami peroleh cukup tipis namun sebagian tetap kami jual untuk membeli kebutuhan sehari hari, menutup belanja modal dan persiapan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri,” terang Hendra.

Salah satu petani memanen gabah dengan sistem perontokan manual [Foto: Henk Widi]
Hendra menyebut dengan pemanenan menggunakan sistem gebuk saat perontokan membuat padi miliknya bisa susut sekitar 1 kuintal perhektar. Kondisi normal ia menyebut proses pemanenan membuat ia bisa menghasilkan sekitar 6 ton gabah dikurangi penyusutan menjadi 5,9 ton.

Lokasi terasering di bawah Gunung Rajabasa diakuinya menjadi kendala untuk penggunaan mesin threser serta combine harvester. Imbasnya penyusutan akibat padi terbuang lebih tinggi karena dirontokkan dengan sistem gepyok.

Suhaimah (40) salah satu pemilik usaha jual beli gabah asal Bumidaya Palas menyebut pembeli saat ini sulit menurunkan harga GKP. Sebab adanya penetapan HPP dari pemerintah dirinya tidak bisa serta merta menurunkan harga di bawah standar HPP.

Aturan penyerapan gabah oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan larangan menjual gabah keluar Lampung sekaligus menyulitkan pemilik usaha gabah.

Suhaimah menyebut saat ini dengan adanya pemantauan dari tim serapan gabah (Sergap) berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, TNI AD, membuat ia harus menjual gabah ke Bulog.

Meski demikian jumlah gabah yang dibeli dari petani mencapai 20 hingga 40 ton sebagian dikeringkan untuk dijual dalam bentuk GKG dan dijual dalam bentuk beras. Bersama pemilik usaha penggilingan padi di Lampung Selatan, saat harga beras tinggi terutama jelang Ramadan dan Idul Fitri, pilihan mengolah gabah menjadi beras disebutnya lebih menguntungkan.

“Saat ini harga pembelian pemerintah terbilang tinggi menurut penilaian kami sebagai pengusaha jual beli gabah, tapi tidak bisa diturunkan,” beber Suhaimah.

Ia bahkan menyebut bagi pemilik usaha pembelian gabah dan pemilik pabrik penggilingan harga yang pas gabah Rp3.500 per kilogram. Saat ini harga Rp4.200 per kilogram masih terbilang wajar dengan estimasi biaya operasional yang dikeluarkan petani untuk upah tenaga kerja (manol) angkut.

Harga tersebut juga khusus untuk jenis gabah varietas IR 64 dan Ciherang. Sementara harga varietas padi Muncul di tingkat petani dibeli seharga Rp3.900 perbkilogram.

Penurunan harga GKP diakui Suhaimah karena saat ini harga beras di pasaran masih terpantau normal. Jenis beras sedang,medium disebutnya berkisar Rp8.500 hingga Rp12.500 per kilogram.

Ia bahkan memilih menjual sebagian gabah dari petani ke Bulog menyesuaikan standar kualitas yang ditentukan, sisanya digiling untuk dijual dalam bentuk beras.

Meski masih menjual gabah ke daerah Serang Banten, namun pengurangan dilakukan dengan adanya larangan pemilik usaha gabah di Lampung menjual keluar daerah.

Lihat juga...