Ceita Personel SAR Lampung di 10th FAI WPC di Thailand
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Bangga bercampur haru, demikian kata Adi Ayang Syah, salah satu personel Badan Pencarian dan Pertolongan Kantor SAR Lampung yang dipercaya mewakili Indonesia dalam 10th FAI World Paramotor Championship (WPC) di Pasak Jolasid Dam, Saraburi, Thailand.
Sebagai atlet paramotor asal Indonesia, meski tidak masuk 10 besar namun ia cukup bangga menduduki peringkat 15 dari total sebanyak 120 peserta dari 15 negara di dunia.
Adi Ayang Syah, pria kelahiran Palembang 31 tahun silam itu mengikuti iven kejuaraan dunia paramotor ke-10 dari tanggal 27 April hingga 7 Mei lalu.
Adi Ayang Syah mewakili Indonesia bersama dua atlet paramotor lain dari Jakarta dan Jawa Timur. Selama di Thailand, ia mengikuti berbagai sesi persiapan, latihan hingga pelaksanaan parasut bertuliskan BASARNAS, yang menjadi perhatian atlet paramotor dari negara lain saat pertama ikut sesi latihan dan landing di darat.
Pertanyaan “Are you rescue Indonesia?” dari beberapa atlet, di antaranya dari Eropa, dijawabnya dengan, “Yes, sure. I’am rescue! National Search And Rescue of Indonesia”.
Perbincangan tersebut diakuinya menarik, karena para atlet dari negara lain mengenal BASARNAS dalam operasi pencarian saat kejadian terjatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di Selat Karimata pada 2014 silam.

“Sebagian pilot paramotor menanyakan kepada saya seperti apa cara Basarnas Indonesia menggunakan paramotor, yang saya jawab, ‘paramotor dipergunakan untuk melakukan pencarian dari udara dalam sebuah insiden kecelakaan’,” terang Adi Ayang Syah, melalui WhatsApp, sekembalinya dari ajang WPC di Thailand, Jumat (11/5/2018)
Ia menerangkan kepada pilot dari negara lain, bahwa penggunaan paramotor sangat efesien saat melakukan tindak awal pencarian korban di laut, gunung, hutan dalam fase kecil, guna meminimalisir biaya pencarian dan pertolongan.
Ia juga menjelaskan peranan paramotor, khususnya di Lampung sebagai salah satu wilayah dengan potensi SAR tinggi membuat paramotor diperlukan oleh Basarnas.
Apalagi, katanya, Lampung merupakan salah satu provinsi di ujung Selatan Pulau Sumatera yang menghubungkan Pulau Jawa. Kecelakaan di laut membutuhkan paramotor yang di negara lain hanya fokus pada kegiatan olahraga.
Adi menyebut, keikutsertaannya dalam ajang paramotor internasional merupakan salah satu partisipasinya sebagai atlet dan baru kali pertama paramotor Indonesia mengikuti kejuaraan dunia.
Meski demikian, ia menyebut mendapat dukungan penuh oleh Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas), khususnya Kantor SAR Lampung.
Berada di Thailand sejak (26/4) hingga (7/5), membuat ia memiliki banyak pengalaman. Selain keterkejutan dan rasa bangga dari pilot negara lain, ia juga mengevaluasi diri tentang peralatan paramotor yang di negara lain sudah lebih canggih.
Sebagai atlet yang menekuni paramotor sejak 2013, ia belajar tentang performa engine (mesin) serta parasut, berikut teknologi terbaik dalam dunia paramotor.
Ia menyebut, dominasi negara Eropa, terutama Perancis dan Polandia masih belum tertandingi. Dari urutan peringkat pertama hingga sepuluh, katanya, hanya Thailand satu-satunya negara Asia Tenggara, sementara dominasi pemenang berasal dari Perancis merebut lima posisi disusul Australia, Polandia, Spanyol, Chekoslovakia.
“Sisanya atlet paramotor yang bisa menduduki peringkat atas berasal dari Brasil dan sebagian masih didominasi negara Eropa seperti Polandia dan Rusia,” cetus Adi Ayang Syah.
Bertanding dengan 15 negara di dunia, membuat Adi Ayang Syah bisa melihat pilot paramotor unggulan dan terbaik dari seluruh dunia yang menunjukkan kemampuannya.
Bersama dengan dua atlet lain dari Indonesia serta tim selama kurang lebih sepuluh hari di negeri gajah putih tersebut, dirinya melakukan sembilan tantangan yang diberikan oleh panitia. Beberapa kondisi terbang di antaranya kondisi calm, slalom di atas air serta kondisi cuaca ekstrem dengan mengandalkan peralatan navigasi.
Sebagai sebuah kegiatan olahraga yang memacu adrenalin, kegiatan paramotor internasional disebutnya menjadi bekal untuk terus mengabdikan diri sebagai personel Basarnas.
Dalam waktu dekat , Adi sebagai anggota SAR Lampung tugasnya melakukan pemantauan udara, baik dalam kondisi normal maupun siaga khusus, di antaranya lebaran Idul Fitri.
Pada arus libur mudik Idul Fitri, ia kerap disiagakan di pelabuhan Bakauheni untuk kesiapsiagaan dalam operasi Ramadan dan Hari Raya (Ramadniya).
“Setelah iven internasional di Thailand, saya harus kembali mengabdikan diri sebagai personel Basarnas dan mengasah kemampuan saya,” cetusnya.
Ia menyebut, salah satu faktor dirinya hanya memperoleh peringkat 15 dunia, antara lain karena kondisi parasut yang berusia 5 tahun. Ia bahkan menyebut dari peringkat 1 hingga 15 dunia dalam WPC Thailand, ia hanya mengalami kekalahan selisih waktu 15 detik saja. Kondisi tersebut bisa menjadi evaluasi sekaligus pembenahan dalam bidang peralatan pendukung paramotor.
Sebagai atlet yang meraih peringkat 15 pada ajang WPC di Thailand tahun ini, ia berharap pada 2019 masih bisa mengikuti ajang internasional.
Sesuai rencana, pada 2019 yang belum ditentukan bulannya, akan digelar Asia Oceania Paramotor Championship (AOPC) di India. Adi Ayang Syah akan menabung untuk memperoleh parasut baru sekaligus bisa mewakili Indonesia pada ajang olahraga dirgantara.
Dukungan dari BASARNAS pusat, Kantor SAR Lampung, FASIDA Lampung dan KONI serta tim disebutnya menjadi penyokong dirinya bisa ikut ajang paramotor internasional.
Selain bisa ikut iven internasional, Adi Ayang Syah tetap fokus ke Badan Pencarian dan Pertolongan kantor SAR Lampung. Sebab, berbagai tugas telah menanti sekembalinya dari Thailand, terutama menghadapi arus mudik dan balik lebaran Idul Fitri 2018/1439 Hijriyah.