Angka Anak Kurus di Sikka Lebih Kecil dari Angka Nasional
Editor: Mahadeva WS
MAUMERE – Kondisi anak yang sangat kurus atau dalam istilah medis disebut wasting di kabupaten Sikka dari tahun ke tahun mengalami penurunan secara signifikan. Data wasting 2017 secara nasional mencapai 9,5 persen.
Direktur Gizi Kementerian Kesehatan Ir Doddy Izwardy MA menyebut, di 2017 angka wasting di NTT 15,8 persen. “Data tentang Wasting tahun 2017 menunjukkan bahwa untuk tingkat nasional, angka Wasting sebesar 9,5 persen. Untuk tingkat provinsi NTT, angka wastingnya adalah 15,8 persen dan angka di kabupaten Sikka hanya 7,4 persen,” sebutnya, Jumat (11/5/2018).
Wasting adalah kondisi kurus karena kekurangan gizi. Dengan kondisi tersebut memperlihatkan, capaian Kabupaten Sikka melampaui capaian nasional dan NTT. Hal tersebut menjadi sebuah prestasi yang harus terus ditingkatkan meski kondisi masyarakat di Sikka dan NTT masih banyak yang hidup dengan kondisi serba terbatas.
“Kami selalu mengundang bupati Sikka untuk mensharingkan pengalaman daerah ini dalam perjuangan menurunkan angka stunting dan wasting itu dalam berbagai kesempatan kepada daerah lainnya di NTT,” sebutnya.

Plt. Bupati Sikka Drs.Paolus Nong Susar menyebut,sejak 2013 Kabupaten Sikka bekerja sama dengan UNICEF untuk mengatasi Stunting dan Wasting. Namun kerjasama tersebut telah berakhir pada 2015 lalu. “Setelah pendampingan UNICEF berakhir, mulai 2015 kami mendanai kegiatan-kegiatan tersebut dari dana APBD Kabupaten Sikka dan dana desa. Semua bisa berjalan sebab pemahaman dan kesadaran di masyarakat sudah mulai tumbuh,” tuturnya.
Dalam upaya membangun kesadaran masyarakat, Pemkab Sikka juga bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Keuskupan Maumere. Kerjasama tersebut mengharapkan agar gereja membantu memberikan sosialisasi dan himbauan kepada umatnya.
“Tentang isu Stunting atau kondisi badan pendek kecil pada anak akibat kurang gizi kronis, dalam RPJMD Kabupaten Sikka 2014-2018, stunting menjadi isu prioritas dan kami jadikan sebagai salah satu indikator dalam mengukur keberhasilan di Bidang Kesehatan,” urainya.
Dari pendekatan tersebut memberikan pengalaman, bahwa anak yang sangat kurus harus cepat teridentifikasi agar segera mendapat pertolongan. Tentunya pemantauan terhadap kinerja petugas kesehatan dilakukan secara ketat agar bisa bekerja sesuai target.