Tenun Ikat Asli Sikka Diserbu Rombongan Isteri Menteri

Editor: Irvan Syafari

MAUMERE — Puluhan kain tenun ikat Sikka dengan berbagai motif yang mempergunakan pewarna alami dan tidak luntur yang dipajang di halaman gedung Sikka Convention Center (SCC) diserbu isteri Wapres Hj Mufidah Jusuf Kalla dan rombongan isteri menteri kabinet kerja era Presiden Jokowi.

“Saat mau pulang banyak isteri menteri dan Bbu Mufidah Jusuf Kalla mengunjungi stan penjualan tenun ikat dan membeli aneka kain tenun ikat. Sanggar kami saja terjual 30 kain tenun ikat dengan harga 1,5 juta rupiah sampai 3 juta rupiah,” ungkap Yoseph Gervasius ketua sanggar Bliran Sina, Kamis (5/4/2018).

Sanggar Bliran Sina asal Watublapi kata Yos sapaannya, juga memperagakan cara membuat kain tenun ikat mulai dari proses memintal kapas menjadi benang, pencelupan benang menggunakan pewarna alami hingga proses menenun hingga menjadi sebuah kain tenun ikat.

“Memang waktunya terbatas sehingga rombongan ibu wapres hanya berada di stan sekitar 30 menit saja. Namun kami bersyukur sebab mereka membeli kain tenun yang dijual para pedagang di stan ini,” tuturnya.

Tadeus Tara penjual kain tenun lainnya saat ditanya Cendana News mengaku kain tenunnya terjual 30 lembar dengan harga 500 ribu rupiah selembarnya. Selendang juga laku terjual sekitar 40 lembar dengan harga 150 ribu rupiah selembarnya.

“Saya menjual sebuah kain tenun dengan pewarna alami seharga 2 juta rupiah dan hanya laku selembar saja. Banyak juga yang membeli kain tenun dengan harga 300 ribu rupiah dengan menggunakan pewarna alami,” tuturnya.

Bahkan lanjut Tadeus, isteri Kapolri membeli kain tenun hingga sekarung dengan jumlah sekitar 30 lembar kain tenun.Rata-rata setiap isteri menteri membeli 10 hingga 30 lembar kain tenun ikat yang dijual 5 pedagang dan sanggar tenun ikat.

“Ada juga isteri pejabat dari NTT seperti isteri Kapolda, Kejati NTT serta pejabat lainnya yang membeli untuk oleh-oleh buat isteri mereka. Tadi saya tanya-tanya total sekitar 300 kain tenun terjual,” ungkapnya.

Tadeus berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi para penenun dan penjual tenun ikat untuk bisa menggelar pameran di Jakarta agar bisa mendapatkan pelanggan yang rutin memesan kain tenun ikat untuk dijual kembali. Selama ini perajin dan penjual hanya menggunakan uang pribadi untuk biaya pameran di luar daerah.

“Saya akhir bulan April ini akan berpameran di Jakarta selama seminggu bersama seorang teman pelukis. Namun tentunya kain tenun ikat yang dibawa tidak terlalu banyak sebab biaya transportasi dan bagasinya sangat mahal sementara keuangan kami terbatas,” tuturnya.

Lihat juga...