Semarang Jajaki Kerja Sama “Sister City” dengan Jiaxing

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. - Foto: Dokumentasi CDN.

SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah, melakukan penjajakan kerja sama “sister city” dengan Pemerintah Kota Jiaxing, Provinsi Zhejiang, Tiongkok karena kesamaan demografi dan problem yang dihadapi.

“Sister city atau kota kembar umumnya memiliki persamaan demografi dan permasalahan yang dihadapi. Bisa diumpamakan sebagai sahabat pena,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Semarang, Kamis (5/4).

Hal tersebut diungkapkan Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, usai rapat koordinasi forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) bersama pemangku kepentingan menjelang Pilgub Jateng 2018 dan Pemilu 2019.

Politikus PDI Perjuangan itu menjelaskan bahwa “sister city” merupakan konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antarpenduduk.

Untuk konsep “sister city” dengan Jiaxing, kata dia, rencananya difokuskan pada beberapa bidang, antara lain, investasi perdagangan bisnis, budaya, dan pariwisata terkait dengan potensi kedua kota itu.

“Kami rencanakan kerja sama terkait dengan pariwisata, investasi, bisnis perdagangan, kemudian ‘tourism’. Ini masih dalam penjajakan yang nantinya penandatanganan kerja sama pada bulan November yang akan datang,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu yang baru saja pulang dari Jiaxing mengungkapkan sebagai awal pelaksanaan “sister city”, pemerintah Jiaxing berencana memberikan beasiswa.

“Sistem kerja samanya nanti rencana dari Pemerintah Kota Jiaxing akan banyak investor yang menanamkan modalnya di Kota Semarang. Dari Pemkot Semarang melalui perguruan tinggi akan mengirimkan mahasiswa,” katanya.

Ita, sapaan akrab Hevearita, menjelaskan Pemerintah Kota Jiaxing berkenan menyediakan beasiswa kepada mahasiswa perguruan tinggi di Semarang, terutama untuk bahasa dan budaya melalui Universitas Jiaxing.

Pemerintah Kota Jiaxing, kata dia, sudah menunjuk Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang akan diminta mengirimkan mahasiswanya dari Jurusan Bahasa Mandari, Fakultas Budaya dan Seni (FBS) untuk program tersebut.

“Nantinya, mahasiswa itu diharapkan juga bisa menarik banyak investor Tiongkok ke Kota Semarang, termasuk membantu menjadi penerjemah dan ‘guide’ orang-orang dari Tiongkok yang datang ke Semarang,” katanya.

Dalam waktu dekat, kata dia, Pemkot Semarang akan berkoordinasi dengan Rektor Unnes untuk membahas program beasiswa tersebut agar segera terealisasi dan menarik banyak pengusaha Tiongkok untuk berinvestasi.

“Harapan kami, dengan banyaknya mahasiswa belajar budaya dan bahasa di Jiaxing bisa menarik orang-orang dari China (Tiongkok) untuk berinvestasi. Ya, bahasa kan masih jadi kendala dalam berkomunikasi,” katanya (Ant).

Lihat juga...