PLN Diminta Lebih Efisien Biaya, Antisipasi Melemahnya Rupiah
JAKARTA – Ketua DPR, Bambang Soesatyo, meminta PT Perusahaan Listrik Negara Persero mengantisipasi peningkatan beban biaya operasional dari kebutuhan impor dan kerugian kurs, karena nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Bambang meminta PLN meningkatkan penghematan di tengah terus melonjaknya nilai dolar AS. Jika ada peningkatan beban atau biaya, Bambang meminta PLN tetap mematuhi instruksi pemerintah untuk tidak menaikkan tarif listrik hingga 2019.
“Komisi VII DPR perlu mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN untuk terus melakukan efisiensi di tengah pelemahan rupiah saat ini, mengingat Pemerintah berjanji, bahwa tarif listrik tidak akan mengalami kenaikan hingga 2019,” kata Bambang, melalui pesan instan selulernya, Rabu (25/4/2018) malam.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN, Sofyan Basir, mengakui pelemahan rupiah yang terjadi, akan berdampak pada kinerja perseroan. Hal itu karena PLN merupakan korporasi yang banyak melakukan transaksi valas dan memiliki kewajiban valas, karena aktif mengimpor bahan baku dan barang modal energi.
Transaksi PLN yang menggunakan mata uang nonrupiah, antara lain pembelian batu bara, kontrak dengan pengembang swasta (Independent Power Producer/IPP), sampai pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai sumber energi pembangkit.
DPR juga meminta Bank Indonesia untuk segera melakukan stabilisasi kurs rupiah. Pelemahan rupiah atau penguatan Dolar AS harus diantisipasi, agar tidak semakin menaikkan harga barang produksi, terutama barang impor.
Terlebih, permintaan masyarakat akan meningkat karena menjelang Ramadhan. “Komisi XI DPR harus mendorong Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia untuk berkomitmen dalam menyiapkan langkah-langkah antisipatif, agar pergerakan kurs dapat kembali normal serta lebih cermat mengawasi berbagai aspek yang mempengaruhi,” ujarnya.
Nilai tukar rupiah baru pada Selasa (24/4) dan Rabu (25/4) ini menunjukkan penguatan di pasar spot, setelah sepanjang Jumat (21/4) dan Senin (23/4) terdepresiasi hingga menyentuh posisi paling parah sepanjang tahun di kisaran Rp13.900.
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu mencapai Rp13.888 per dolar AS, sedikit menguat dibandingkan hari sebelumnya, Rp13.900 per dolar AS. (Ant)