Pidi Baiq, Biasa Saja Novel Dilan Laku Keras

Editor: Satmoko

Pidi Baiq (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Pidi Baiq sosok seniman yang multitalenta. Berbagai aktribut melekat erat pada dirinya: penulis, dosen, ilustrator, komikus, musisi dan pencipta lagu. Namanya mulai dikenal melalui grup band The Panas Dalam yang didirikan tahun 1995.

Kemudian, nama Pidi Baiq semakin dikenal dengan karya novelnya Dilan yang fenomenal. Sebuah novel yang berseri Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990 terbit tahun 2014, Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 terbit tahun 2015 dan Milea: Suara dari Dilan terbit tahun 2016.

Selain ketiga karya di atas, Pidi juga menulis banyak novel seperti di antaranya: Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (2008), Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan (2008). Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan (2009), Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan (2009), Al-Asbun Manfaatulngawur (2010), At-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya (2012), S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun (2012).

“Saya menulis novel Dilan tidak berpikir akan meledak atau apa, tapi menulis saja,“ kata Piqi Baiq dalam perbincangan khusus dengan Cendana News di Senayan City, Jakarta, belum lama ini.

Lelaki kelahiran Bandung, 8 Agustus 1972 itu, menulis novel Dilan tidak bisa menentukan kapan waktunya, karena banyak kegiatan selain menulis yang membuatnya menulis kalau memang ingin menulis.

“Saya kalau menulis ya menulis saja,“ ungkap pengajar filsafat seni ini.

Dalam menulis novel Dilan, Pidi memang tidak berpretensi apa-apa.

“Sejauh yang tahu tentang saya, saya bekerja tidak berpikir nanti akan banyak yang membaca, yang penting berkarya,” bebernya.

Setelah film adaptasi novelnya, Dilan, meledak di pasaran, Pidi tampak tidak girang tapi merasa biasa saja.

“Saya merasa tidak ingin apa-apa, apa yang saya inginkan dalam dunia ini ternyata saya tidak memiliki keinginan,“ ujarnya datar.

Uniknya, Pidi mempunyai rumusan tersendiri tentang keinginan tersebut.

“Keinginan saya adalah tidak ingin memiliki keinginan. Karena barang siapa yang membutuhkan maka ia lemah,“ tuturnya.

Pidi menyampaikan kalau ada yang mau kerjasama dengan dirinya harus mau menerima keburukannya. Kalau tidak mau menerima keburukannya dan tidak jadi kerjasama, ia merasa tidak apa-apa.

“Maksudnya, jangan melihat hanya kebaikan saya saja, tapi kalau mau kerjasama dengan saya harus mau menerima satu unit dari diri saya,“ tegasnya.

Novel Dilan sendiri berkisah tentang hubungan Milea dengan Dilan di sebuah SMA di Bandung tahun 1990, saat Milea pindah dari Jakarta ke Bandung. Perkenalan yang tidak biasa membawa Milea mengenal keunikan Dilan, pintar, baik hati, romantis.

Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelaki lain, bahkan Beni, pacar Milea di Jakarta. Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Sebab ada Beni, Anhar, juga Kang Adi mewarnai perjalanan itu. Disitulah dinamika konflik terjadi. Novel tersebut kemudian difilmkan dan makin laku keras.

Pidi sekarang sedang merencanakan penulisan novel Helen dan Sukanta yang latar peristiwanya zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1930-an.

“Kisah anak Belanda yang jatuh cinta pada anak pribumi, karena masalah kelas sosial menjadi persoalan, mungkin klise, tapi hidup memang klise,“ pungkasnya.

Lihat juga...