Petani di Bangka Tengah Keluhkan Anjloknya Harga Lada
KOBA – Petani di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung mengeluhkan anjloknya harga lada. Harga yang didapatkan saat ini tidak mampu menutupi biaya perawatan mulai dari masa tanam hingga panen.
“Harga lada sekarang ini hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, dengan harga segitu jelas petani rugi karena biaya perawatan tidak sebanding dengan harga jual yang terlalu rendah,” kata seorang petani lada di Bangka Tengah Wagito, Sabtu (28/4/2018).
Wagito menyebut, petani harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk menanam lada hingga panen. Mulai dari membeli bibit, junjung, pupuk dan biaya membersih kebun lada miliknya mengeluarkan biaya ratusan ribu untuk setiap batang pohonnya. Jika dikalkulasikan, satu batang lada petani harus mengeluarkan biaya hampir mencapai Rp200 ribu.
Sehingga ketika petani memiliki 400 batang lada saja, biaya yang dikeluarkan mencapai jutaan rupiah. Untuk bisa menutupi biaya operasional selama bertanam, semestinya harga lada berkisar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. “Posisi harga lada mencapai Rp100 ribu saja per kilogram, maka petani sudah bisa untung. Kalau sekarang petani malah buntung karena diibaratkan besar pasak daripada tiang,” tandasnya.
Sementara Saiman, petani lada lainnya juga mengeluhkan kondisi harga yang tidak kunjung naik dan malah terus anjlok hingga ke level harga terendah. “Ini harga lada sudah sampai pada level terendah, tidak pernah terjadi sebelumnya. Dulu harga lada jarang di bawah Rp100 ribu per kilogram,” katanya.
Ramlan, petani lada lainnya mengaku tetap optimistis harga lada akan kembali mencapai level tertinggi dan dirinya tetap tekun serta sabar bertanam lada. “Saya tetap yakin harga lada suatu saat akan naik pada level tertinggi, maka sekarang yang bisa saya lakukan adalah memanen dan menyimpannya dan kemudian nanti dilepas ketika harga sudah tinggi, anggap saja menabung,” pungkasnya. (Ant)