Muhammadiyah Produksi Film untuk Pendidikan Karakter Bangsa

Editor: Satmoko

M Sukriyanto AR, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Film bukan hanya hiburan semata, tapi juga bisa menyampaikan pesan moral. Berangkat dari titik tolak ini Muhammadiyah berinisiatif membuat film yang bertujuan untuk memberi kontribusi dalam pendidikan karakter bangsa.

“Kami dari Muhamadiyah ingin memberi kontribusi dalam pendidikan karakter bangsa, “ kata M Sukriyanto AR, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, kepada Cendana News seusai pemutaran perdana film ‘Meniti 20 Hari’ di Aula Gedung DPR – MPR RI, Senayan, Jakarta, Sabtu (21/4/2018).

Sukriyanto menerangkan, Muhammadiyah sudah memberi kontribusi pada pendidikan sekolah maupun pendidikan rumah tangga yang sakinah.

“Tapi di masyarakat, kita perlu memberi pendidikan karakter bangsa, kita prihatin karena masih banyak yang korup dan masih banyak yang tidak disiplin. Maka dari itu kita bikin film yang menghadirkan tokoh-tokoh Indonesia yang berkarakter,“ ungkapnya.

Film ‘Meniti 20 Hari’ bukan satu-satunya film yang diproduksi Muhamadiyah karena masih banyak film yang akan diproduksi, seperti di antaranya film-film tentang Pak Dirman, Bu Fatmawati, Pak Juanda, Pak KH Hasyim Ashari, dan Pak Ahmad Dahlan.

“Sinopsisnya sudah selesai, tinggal saya bertemu dengan Gus Sholah, nanti kalau setuju kita membuat film bersama-sama,“ bebernya.

Produksi film-film tersebut dilakukan untuk mengurangi radikalisme. Bagi Sukriyanto, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan Islam yang damai, Islam yang sejuk, Islam yang toleran. Hasyim Ashari juga begitu.

“Kiai Dahlan itu ibarat sebuah mata air yang jernih mengalir ke mana-mana. Hasyim Ashari itu ibarat telaga yang ditimba dimana banyak orang yang datang dari mana-mama. Semoga film-film yang kita produksi dapat bermanfaat,“ paparnya penuh harap.

Karena film-film yang diproduksi adalah film pendidikan jadi diputar tak hanya di kota-kota, tapi juga di kampung-kampung seluruh pelosok Indonesia.

“Kita yang mendekati penonton ke kampung-kampung seluruh pelosok Indonesia, memang tetap dipungut biaya tapi dengan biaya murah,” ujarnya.

Film ‘Meniti 20 Hari’ berkisah tentang perjalanan AR Fakhruddin muda berusia sekitar 20 tahunan, yang bersepeda onthel bersama satu regu pandu Hizbul Waton, dari Ulak Paceh Palembang ke Medan, yang sekitar 1300 km.

Sutradaranya, Musbaryanto adalah kader Muhammadiyah. Sedangkan para pemainnya adalah para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang, STIKER Muhammadiyah Palembang, dan SMA Muhammadiyah Palembang.

“Aktingnya tidak terlalu jelek karena mereka memang sangat berbakat,“ tegasnya.

Film ‘Meniti 20 Hari’ diproduksi dengan biaya yang kecil karena didukung oleh kader dan siswa maupun mahasiswa Muhammadiyah.

“Kita juga dapat dukungan dari berbagai kalangan yang turut mendukung program kita dalam memberi kontribusi pendidikan karakter bangsa,“ pungkasnya.

Lihat juga...