Lewat Batik, Posdaya Ngudi Maju Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Editor: Satmoko

YOGYAKARTA – Ada banyak cara bisa dilakukan untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan warga. Salah satunya adalah memanfaatkan dan mendayagunakan potensi yang dimiliki warga sekitar. Seperti dilakukan Posdaya Binangun Ngudi Maju yang ada di Dusun Nglatiyan 1, Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo, Yogyakarta.

Berada di kawasan sentra pembuat dan perajin batik, Posdaya Ngudi Maju secara langsung ikut terlibat dan berperan aktif meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan warga sekitar melalui unit usaha pembuatan batik Thok Thil pimpinan seorang ibu rumah tangga, Yumar Wuragil.

Sebagai warga asli Dusun Nglatiyan 1 yang memiliki darah seniman dan perajin batik secara turun temurun, Yumar berupaya membuka sebuah usaha pembuatan batik di desanya melalui Posdaya Ngudi Maju.

Sejumlah warga Dusun Nglatiyan 1 Ngentakrejo Lendah Kulon Progo nampak tengah membatik. Foto: Jatmika H Kusmargana

Murid seniman sekaligus pembatik kondang Amri Yahya ini memilih membuka usaha pembuatan batik di desanya agar mampu membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.

“Di sini itu sentra batik. Skill orang di sini adalah membatik. Sejak kecil warga sudah biasa membatik secara turun-temurun. Karena itu pemberdayaan ekonomi Posdaya Ngudi Maju fokus pada usaha pembuatan batik,” katanya, baru-baru ini.

Dengan adanya unit usaha pembuatan batik Thok Thil ini, belasan warga Dusun Nglatiyan bisa mendapatkan penghasilan dengan membatik. Mereka diberikan kebebasan berkreasi dalam membatik dengan ciri khas tertentu yang dapat meningkatkan nilai jual produk batik mereka serta tidak kalah dengan pembuatan batik lainnya.

“Ciri batik kami itu semi abstrak tertata. Setiap motif yang dibuat selalu hanya satu buah. Jadi selalu eksklusif. Itu kita lakukan agar unit usaha posdaya ini bisa tetap bertahan karena memiliki ciri khas yang berbeda dari usaha pembuatan batik lainnya,” katanya.

Fokus pada pembuatan batik tulis, unit usaha batik Thok Thil Posdaya Ngudi Maju tak hanya membuat motif-motif batik modern saja. Namun juga tetap membuat motif batik-batik klasik. Mereka biasa membatik untuk memenuhi pesanan pelanggan dari berbagai daerah seperti Jakarta dan sebagainya.

Produk pakaian batik Posdaya Ngudi Maju. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Dalam sebulan kita biasanya mampu memproduksi 50-100 buah kain batik. Namun saat ada pesanan kita juga bisa menyelesaikan hingga 300 potong kain batik dalam sebulan. Meski hanya dikerjakan oleh 7 orang secara terus menerus tanpa berhenti,” katanya.

Dengan pangsa pasar kelas menengah ke atas, pelanggan usaha batik Thok Thil Posdaya Ngudi Maju biasanya adalah instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga perusahaan ternama. Satu buah kain batik hasil produksi warga Dusun Nglatiyan ini dihargai Rp150-700 ribu per buah.

“Kita memang bukan yang terbaik, namun kita berbeda. Jadi walaupun kita jarang promosi namun alhamdulillah pesanan selalu ada,” ujarnya.

Lihat juga...