Kesulitan Pengairan, Petani Penengahan Tanam Kacang Hijau
Editor: Irvan Syafari
LAMPUNG — Proses Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) berimbas pada lahan pertanian di Kecamatan Bakauheni, Penengahan. Akibat proyek jalan bebas hambatan tersebut, pasokan air pada saluran irigasi berkurang. Akibatnya sejumlah petani menjadikan lahan padinya untuk tanaman kacang hijau dan jagung manis, sementara waktu.
Di antara petani yang memilih bertanam kacang hijau dan jagung Irawati (30). Petani di Desa Klaten mengaku, semenjak setahun terakhir lahan sawah miliknya sulit digarap pasca proyek pembangunan JTTS.
Selain saluran irigasi yang berubah, sumber pasokan air yang berkurang membuat lahan pertanian miliknya tidak bisa diolah menjadi lahan sawah. Irawati menanam jagung manis dan kacang hijau selama tiga kali masa tanam, yang memiliki usia panen pendek.
“Awalnya kami masih ingin menanam padi sawah namun karena sementara waktu saluran irigasi tidak berfungsi dengan baik lahan menjadi kering,kami menanam jagung manis serta kacang tanah mengandalkan air tadah hujan, ”terang Irawati, Senin (2/4/2018).
Menurut Irawati, dia bersama suaminya Sobri menanam bibit kacang hijau sebanyak sepuluh kilogram dan jagung manis lima kilogram. Kedua jenis tanaman tersebut masih tetap bisa ditanam dengan kondisi pasokan air yang terbatas dan berproduksi dengan baik pada panen dua masa tanam sebelumnya.
Kacang hijau ditanam keduanya di areal seluas setengah hektare dan jagung manis seluas setengah hektare. Tanaman kacang hijau bisa dipanen pada usia 70 hari dengan ciri fisik kulit sudah berwarna hitam dan keras. Ia bahkan melakukan pemanenan saat kulit kacang hijau miliknya sebagian sudah berwarna hijau tua.
“Pemanenan saya lakukan sebelum kulit kering menghindari buah terbuang saat pecah secara alami di pohon, pengeringan dilakukan dengan menjemur di halaman,” ujar Irawati.
Hasil panen kacang hijau dijual ke pemilik usaha pembuatan bubur dengan harga Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Pada dua kali masa tanam ia memperoleh 50 kilogram dan pada masa tanam tahun ini dengan bibit yang lebih banyak diprediksi bisa memperoleh 70 kilogram kacang hijau kering.
Pada masa panen April ini, Irawati sengaja mempersiapkan kacang hijau untuk pembuatan bubur pada Ramadan dan es kacang hijau untuk menu berbuka puasa.
Sementara jagung manis yang bisa dipanen saat usia muda. Penanaman jagung yang membutuhkan air relatif sedikit diakui Irawati lebih memiliki keuntungan ekonomis dan lebih cepat panen.
Pada usia 60 hari ia sudah bisa memanen jagung manis, yang banyak dibeli oleh pedagang sayuran dan jagung bakar. Selain membutuhkan air dalam jumlah sedikit masa panen yang singkat membuat ia bisa melakukan penanaman dan pemanenan maksimal enam kali dalam setahun.
“Pemanenan kami lakukan setelah dua bulan melihat saat kondisi jagung terisi penuh siap dijual ke penampung,” papar Irawati.
Harga jagung manis saat ini cukup lumayan, Rp6.000 per kilogram di pasar tradisional.
Upaya peningkatan swasembada pangan melalui program upaya khusus padi jagung dan kedelai (Pajale) juga terus didorong oleh Koramil 03/Penengahan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.
Danramil Sersan Dua Sudarwanto mengatakan, para bintara pembina desa (Babinsa) terus mendorong petani memanfaatkan lahan yang ada. Dorongan untuk petani melakukan upsus Pajale dilakukan dengan proses pembagian bibit kepada kelompok tani di wilayah kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Ketapang.
“Upsus Pajale untuk proses swasembada pangan dilakukan dengan memberikan pendampingan sekaligus pengawasan distribusi pupuk bersubsidi,” ujar Sudarwanto.
Sejumlah wilayah yang tidak mendapat saluran irigasi diakui Sudarwanto mendapat bantuan bibit kedelai. Pada 2017 sebanyak 60 kelompok tani di wilayah Koramil 03/Penengahan mendapatkan alokasi bibit kedelai sebanyak 53 ton.
Potensi lahan untuk tanaman kedelai dengan alokasi bibit sebanyak tersebut diakuinya bisa ditanam pada lahan 1.325 hektare. Lahan pertanian tersebut tersebar di sebanyak 22 desa di wilayah kecamatan Penengahan.
Sementara untuk bibit jagung bersama UPT Dinas Tanaman Pangan Hortikutura dan Perkebunan (UPT DPHBun) diberikan kepada sebanyak 186 kelompok tani. Dengan alokasi masing masing kelompok sekitar 45 ton bibit dibagikan melalui sebanyak 73 kelompok tani dengan luasan lahan sekitar 3.000 hektare.
Untuk benih padi varietas Ciherang dibagikan kepada sebanyak 53 Poktan dengan luasan lahan 1.300 hektare dengan alokasi bibit sebanyak 32,5 ton.
“Setiap petani dan kelompok tani memiliki luasa lahan berbeda sehingga alokasi bibit juga berbeda, namun bantuan dari Kementan sudah tersalurkan,” papar Sudarwanto.
Para babinsa Koramil juga mendorong pemanfaatan lahan yang sementara belum teraliri irigasi untuk hortikultura. Sementara untuk lahan pertanian padi bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, pihak Koramil mendorong petani melakukan percepatan masa tanam. Percepatan masa tanam dilakukan dengan sistem culik semai.

Sistem culik semai oleh Koramil 03/Penengahan dan Kementan diakuinya dilakukan dengan melakukan curi start semai sebelum panen. Hingga saat ini potensi penerapan culik semai diterapkan pada alokasi luas tambah tanam (LTT) seluas 2.903 hektare lahan. Luas lahan tersebut tersebar di Kecamatan Ketapang seluas 1023 hektare, Penengahan 1700 hektare dan Bakauheni seluas 180 hektare.