Kemensos Minta Tagana Tingkatkan Kewaspadaan di Banjarnegara

Ilustrasi penanganan korban gempa - Foto: Dok. CDN

BANJARNEGARA – Kementerian Sosial menginstruksikan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Tim Dukungan Psikososial (LDP) Kemensos untuk meningkatkan kewaspadaan di Banjarnegara.

Kedua kelompok tersebut diharapkan mengutamakan perlindungan warga, karena gempa bumi susulan masih terus menguncang Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. “Terutama perlindungan kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kemensos Harry Hikmat saat meninjau proses penanganan kebencanaan gempa bumi di Posko Pengungsi Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (22/4/2018).

Menurutnya, pengungsi memerlukan sapaan serta penguatan sesaat setelah terjadinya gempa susulan. Hal tersebut menjadi tugas tim LDP beserta Tagana Psikososial untuk melakukan pendampingan dan penanganan. Berdasarkan hasil kunjungan ke Desa Kasinoman, Kertosari, Plorengan, dan Sidakangen, Harry melihat perhatian kepada kelompok rentan masih butuh ditingkatkan.

“Berdasarkan hasil asesmen tim LDP, ketika ada gempa susulan, anak-anak panik, ketakutan, menangis, dan menjerit-jerit. Para lansia terutama ibu-ibu mengalami kecemasan di luar kewajaran dan takut masuk rumah,” katanya.

Bahkan dari evaluasi yang dilakukan, pengungsi yang anggota keluarganya meninggal dunia mengalami kesedihan yang mendalam, takut masuk rumah, sulit tidur, dan tidak mau makan serta mengalami kebingungan. Dari kondisi tersebut, kesimpulan hasil asesmen menunjukkan bahwa pengungsi mengalami kesedihan yang mendalam dan merasakan trauma serta kecemasan akan kehidupan selanjutnya.

Para pengungsi memerlukan layanan psikososial secara berkelanjutan dan dalam jangka panjang diperlukan penanganan pascatrauma atau Post Trauma Stres Disorder (PTSD). Llayanan psikososial secara berkelanjutan itu meliputi penyembuhan trauma, konseling, semangat hidup, terapi tinjauan kehidupan, terapi spiritual, dan terapi permainan.

“Layanan trauma healing (penyembuhan trauma), konseling, dan psikoterapi akan terus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan sesuai dengan kebutuhan meskipun masa tanggap darurat selesai,” katanya.

Saat ditemui Harry di salah satu tempat pengungsian Desa Kasinoman, salah seorang pengungsi, Dakemi (90) mengaku masih belum berani pulang ke rumah sehingga tetap bertahan di tempat itu bersama anak, cucu, dan cicitnya sejak gempa yang terjadi pada hari Rabu, 18 April lalu.

Dia mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya yang rusak akibat gempa berkekuatan 4,4 Skala Richter itu. “Sebenarnya ingin pulang ke rumah. Kalau malam di tenda (pengungsi) dingin, kadang hujan juga,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...