Indonesia Terbuka Terapkan Aturan Servis
JAKARTA – Turnamen bulu tangkis Indonesia Terbuka 2018 akan menerapkan aturan batasan tinggi pukulan servis 115 cm. Aturan tersebut mengikuti kebijakan di turnamen All England 2018.
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Achmad Budiharto mengatakan, aturan ketinggian pukulan service tersebut berlaku di turnamen level dua.
“Aturan tinggi pukulan servis itu sementara akan berlaku pada turnamen tingkat kedua, termasuk Indonesia Terbuka. Aturannya seperti di All England,” kata Budiharto di sela-sela Musyawarah Organisasi Nasional Luar Biasa Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Budiharto mengatakan turnamen tingkat tiga seperti Malaysia Masters 2018 belum menerapkan aturan tinggi pukulan servis 115 cm sebagaimana kejuaraan lain bulu tangkis di China selain China Terbuka. Hanya saja hingga kini belum ada informasi penerapan aturan tinggi pukulan servis itu pada kejuaraan beregu Piala Thomas dan Piala Uber 2018.
Negara-negara anggota BWF dari benua Eropa merupakan negara-negara yang menolak penerapan aturan tinggi pukulan servis. Hal itu mempertimbangkan postur tubuh atlet mereka tidak memadai untuk batas ketinggian 115 cm.
“Tampaknya, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) masih akan menerapkan aturan servis itu pada turnamen tingkat atas yaitu tingkat satu dan dua. Kami akan menyiapkan untuk hal itu seandainya benar-benar diterapkan pada Piala Thomas dan Uber. Tapi, saya belum dapat informasi penerapan aturan itu sampai sekarang,” katanya.
Budiharto menyebut, Piala Thomas dan Piala Uber 2018 juga belum menerapkan aturan poin 11 dengan lima gim permainan yang menggantikan poin 21 dengan tiga gim permainan. Tercatat Negara-negara di Asia saat ini memilih mendukung penggunaan poin 21.
Saat ini BWF sedang melakukan pembicaraan mengenai ketentuan poin kemenangan dan jumlah gim tersebut untuk penyelenggaraan Piala Thomas-Uber di Thailand, pada 20-27 Mei. Sementara negara di Eropa berharap aturan poin 11 akan berlaku pada 2019 sebagai tahun menuju Olimpiade Tokyo 2020.
“Hanya saja, negara-negara Asia masih tidak mempunyai suara yang sama, atau kompak. Ada beberapa negara yang akan menyetujui aturan poin 11 karena atlet-atlet mereka sudah menua,” pungkas Budiharto. (Ant)