Transisi Brexit, Inggris Perbarui Perjanjian Perbatasan Irlandia

Ilustrasi Peta Inggris-Foto: Dokumentasi CDN.

BRUSSELS – Inggris menyetujui kesepakatan yang berpotensi tidak menguntungkan demi menghindari perbatasan keras dengan Irlandia Utara. Persetujuan diberikan agar mendapatkan kesepakatan Uni Eropa, bahwa Inggris akan mempertahankan sebagian besar keuntungan Uni Eropa selama hampir dua tahun setelah Brexit.

Setelah di akhir pekan lalu melakukan pembicaraan intensif, kedua belah pihak mengeluarkan sebuah rancangan baru yang tertuang dalam 129 halaman penuh dengan stabilo hijau yang disebut-sebut menunjukkan kesepakatan akhir mengenai bidang hukum yang luas.

Juru runding utama Uni Eropa Michel Barnier bersama Sekretaris Brexit David Davis mengatakan, tidak ada yang mengikat secara hukum sampai seluruh perjanjian disahkan yakni sebelum Brexit setahun dari sekarang. Namun, Dia menyebut kesepakatan tersebut sebagai momen menentukan untuk upaya mencegah Inggris tersingkir tanpa kesepakatan.

“Langkah yang menentukan tetaplah sebuah langkah. Kita tidak berada di ujung jalan dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, termasuk di Irlandia dan Irlandia Utara,” tandas Barnier mengingatkan.

May telah menyebut kesepakatan yang tidak dapat diterima, yang dapat memutus hubungan Irlandia Utara dari negara-negara lain di Inggris adalah dengan membiarkan provinsi yang diperintah Inggris tersebut, tunduk pada peraturan Uni Eropa setelah Brexit.

Jika hal tersebut terjadi, meski hanya bersifat timbal balik maka tidak ada solusi lain yang bisa ditemukan. Kondisi tersebut kemungkinan akan tidak disukai oleh London dan anggota serikat buruh pro-Inggris di provinsi tersebut.

Davis mengatakan bahwa kesepakatan transisi dan persetujuan mengenai hak warga negara ekspatriat akan memberikan kepastian yang cukup besar bagi individu dan perusahaan yang terkena dampak Brexit pada 29 Maret 2019.

Tujuan utama May adalah untuk menjamin kesepakatan politik yang sekarang akan membuat Inggris pada dasarnya adalah anggota Uni Eropa yang tidak memberikan suara hingga akhir 2020 untuk meredakan masalah bisnis. Persetujuan itu kemungkinan akan disahkan oleh para pemimpin 27 negara anggota Uni Eropa lainnya pada pertemuan puncak, sehari setelah mereka bertemu dengan May di Brussels.

Irlandia, yang telah mengancam untuk menahan kesepakatan transisi jika tidak puas dengan jaminan Inggris di perbatasan Irlandia Utara, merasa nyaman sekarang karena mereka memiliki jaminan dan dukungan penuh di Uni Eropa untuk meminta pertanggungjawaban London.

Pasar keuangan menyambut baik kesepakatan tersebut. Poundsterling naik sebanyak 1 persen terhadap dolar ke 1,4088 dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi yang terkuat sejak 16 Februari. Terhadap euro, sterling naik 0,8 persen menjadi 87,46 pence per euro. Harga obligasi pemerintah Inggris turun dan imbal hasil pada emas dua tahun mencapai 0,863 persen, tertinggi sejak Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa pada Juni 2016. (Ant)

Lihat juga...