Target Produksi Pajale di Sumbar 2018 di Atas Nasional
Editor: Satmoko
PADANG – Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Sumatera Barat, menetapkan target produksi pajale (padi, jagung, kedelai) pada tahun 2018 ini di atas target nasional.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat, Candra menjelaskan, target pajale 2018 ini yaitu untuk padi ditargetkan produksinya mencapai 2,8 juta ton. Sementara untuk jagung produksinya ditargetkan sebesar 900 ton. Lalu untuk kedelai produksinya ditargetkan hanya 18 ton saja.
“Untuk kedelai target kita memang sangat kecil. Karena di Sumatera Barat sendiri baru memulai untuk bertanam kedelei,” ujarnya, Senin (5/3/2018).
Ia menyebutkan, alasan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan target pajale di atas target nasional, karena ada beberapa lahan di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat yang selama ini belum termanfaatkan dengan baik, dan pada tahun 2018 ini lahan akan dikelola.
Candra mengatakan, lahan yang belum termanfaatkan itu bisa ditanam dengan berbagai komoditas pangan seperti untuk pajale. Namun khusus untuk tanah kering akan diarahkan untuk bertanam jagung atau kedelai. Sementara yang memiliki air bagus atau irigasi memadai, maka akan diarahkan untuk bertanam padi.
“Jadi dengan adanya lahan-lahan baru itu, produksi pajale diharapkan meningkat,” tegasnya.
Menurutnya, untuk lahan sawah, hampir seluruh daerah di Sumatera Barat kini memiliki lahan sawah. Dulu, hanya Kabupaten Kepulauan Mentawai yang tidak memiliki lahan sawah, karena masyarakat di sana lebih suka mengkonsumsi sagu ketimbang nasi. Namun kini, masyarakat setempat telah diajarkan untuk bercocok tanam, buktinya telah ada beberapa kali masyarakat di Mentawai telah memanen padi.
Ia mengaku, sampai saat ini masih ada beberapa daerah di Sumatera Barat yang produksi padinya masih di bawah 5 ton per tahun. Untuk itu melalui adanya pemanfaatan lahan baru itu, daerah yang selama ini produksi padinya masih di bawah 5 ton, bisa lebih dari angka 5 ton.
“Menentukan lahan baru yang bisa dimanfaatkan itu, saya meminta kepada Balai Penyuluhan di kecamatan untuk turun dan mendata lahan mana saja yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan penanaman tiga komoditas pangan tersebut,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang petani jagung di Indrapura, Kabupaten Pesisir Selatan, Dodi Syahputra mengatakan, saat ini kondisi petani jagung dalam produksi panen bagus.
Produksi bagus yang ia maksud ialah, karena didukung cuaca yang tidak sering turun hujan. Sebab, untuk memanen jagung itu dibutuhkan cuaca panas, sehingga akan menghasilkan kualitas jagung yang bagus.
“Jagung-jagung yang telah dipanen itu nanti dijemur. Karena jagung ini akan dijadikan pakan ataupun untuk jenis olahan lain. Jika hari hujan, maka sulit untuk menjemur, dan apabila dibiarkan begitu, jagungnya bisa berjamur,” sebutnya.
Menurutnya, di Indrapura sendiri petani memiliki khusus lahan tanam jagung dan tidak melakukan sistem tanam silang, yakni menanam dua komoditas pangan di lahan yang sama.
“Kita di sini kalau tanam jagung ya lahannya harus khusus untuk bertanam jagung. Kalau bertanam padi, yang lahan sawahnya sudah ada,” ujarnya.