Ratusan Ribu Orang Perlu Bantuan Pasca Gempa Papua Nugini
SYDNEY – Ratusan ribua orang di Papua Nugini membutuhkan bantuan setelah gempa mematikan melanda negara tersebut. Namun kondisi jalan yang rusak akibat longsor menjadikan upaya pengiriman bantuan ke daerah pelosok menjadi terhambat.
Gempa di Papua Nugini seminggu lalu, tercatat menghancurkan rumah penduduk. “Sekira 147.000 orang sangat membutuhkan makanan, air dan sanitasi,” kata direktur Palang Merah Internasional di Papua Nugini, Udaya Regmi, Minggu (4/3/2018).
Jalan yang tertutup longsiran mengakibatkan truk dan kendaraan empat roda yang membawa bantuan tidak bisa melintas. Meski hal tersebut tidak memicu kekhawatiran adanya bencana kelaparan, Palang Merah Internasional belum memiliki keterangan rinci kondisi terakhir penduduk di darah terisolir.
Papua Nugini mengumumkan keadaan darurat di wilayah yang dilanda gempa minggu lalu. Namun skala bencana tidak akan diketahui sampai pekerja bantuan dan pihak berwenang dapat menyelesaikan penilaian mereka di daerah tersebut. (Baca : https://www.cendananews.com/2018/02/sedikitnya-14-tewas-akibat-gempa-di-papua-nugini.html).
Laporan Program Pangan Dunia untuk PBB dua hari setelah gempa berkekuatan 7,5 SR melanda bagian selatan dataran tinggi pada 26 Februari memperkirakan 465.000 orang terpapar bencana. Dimana 143.000 diantaranya membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak dan 64.000 mengalami ketidakamanan makanan secara ekstrem.
Direktur program CARE International di Papua Nugini Anna Bryan mengatakan, dampak gempa tidak bisa dihitung dari jumlah orban tewas awal yaitu 31 orang. Hal itu dikarenakan ada puluhan hingga ratusan ribu orang yang tidak terluka dalam gempa telah terputus dari makanan, air minum, komunikasi dan bantuan medis selama seminggu terakhir.
“Kesehatan masyarakat dan kebersihan masyarakat sekarang menjadi masalah,” kata dia.
Bryan mengatakan, sungai yang dibendung oleh tanah longsor menciptakan genangan air yang tercemar oleh lumpur dan bakteri dan memicu ancaman penyakit. Bantuan telah diterbangkan dengan pesawat terbang namun belum diketahui apakah bantuan tersebut sudah bisa sampai ke semua orang yang membutuhkan atau belum. Gempa susulan membuat penduduk desa ketakutan selama lima hari setelah gempa utama. Ketegangan baru mulai mereda pada Sabtu (3/3/2018).
Warga Australia yang sedan berkunjung ke Papua Nugini Sally Lloyd mengatakan, warga desa ketakutan dengan getaran terus menerus. “Ini teror. Mereka mengira akhir dunia sedang terjadi,” katanya melalui sambungan telepon dari Gunung Hagen.
Gempa umum terjadi di Papua Nugini, yang wilayahnya berada di atas Cincin Api Samudra Pasifik. Papua Nugini berada di atas titik nyala kegiatan seismik akibat gesekan antara lempeng tektonik. Pemerintah Papua Nugini dan Australia, Palang Merah dan Care International telah memberikan bantuan. (Ant)