Pengeringan Gabah Petani Sukoharjo Terkendala Hujan

Editor: Koko Triarko

SOLO — Masih tingginya curah hujan menjadi kendala tersendiri bagi petani untuk mengeringkan gabah pascapanen, sehingga membuat petani membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat memproses hasil panen.

Salah satu petani di Sukoharjo, Sukadi, menyebutkan, masih seringnya turun hujan membuat hasil panennya tak kunjung dapat diputar kembali untuk biaya tanam. Sebab, saat musim penghujan seperti ini, proses pengeringan gabah memerlukan waktu  yang jauh lebih lama ketimbang saat musim kemarau.

“Kalau musim kemarau, satu sampai  dua hari gabah sudah kering dan dapat digiling untuk menjadi beras. Kalau musim penghujan seperti ini, harus bolak-balik dijemur. Bisa sampai 4-5 hari baru bisa masuk di mesin penggilingan,” katanya, Senin (5/3/2018).

Ia menambahkan, pengeringan gabah saat musim penghujan juga mempengaruhi kualitas beras yang dihasilkan. Pasalnya, pengeringan gabah tidak sempurna, beras yang dihasilkan juga kurang maksimal.

“Kalau pengeringan tak maksimal, beras jadi mudah pecah. Kalau pengeringannya bagus, bisa mengurangi butiran beras yang pecah,” sebut pria 38 tahun itu.

Akibat cuaca, lahan pertanian yang dimilikinya juga tidak bisa langsung ditanami kembali. Selain terkendala biaya, petani juga masih disibukkan dengan pengeringan gabah.

Tak hanya bagi petani, bagi pemilik usaha jasa penggilingan gabah, kondisi cuaca sangat  berpengaruh. Saat curah hujan tinggi, produksi beras yang dilakukan menjadi tersendat.

“Sementara musim panen petani sudah mau mulai.  Mau tak mau gabah menumpuk dalam proses pengeringan,” imbuh Joko, pemilik jasa penggilingan gabah di Waru, Baki, Sukoharjo.

Bagi pelaku usaha penggilingan gabah, lanjut Joko, sangat tidak memungkinkan jika menggunakan mesin pengering gabah. Sebab, biaya operasional akan semakin tinggi.

“Tidak menutup biaya operasional. Karena itu, selama ini masih mengandalkan sinar matahari untuk proses pengeringan,” tandasnya.

Lihat juga...