Pengamat: Produktivitas Sawah di NTT Rata-rata Masih Tiga Ton
KUPANG — Pengamat pertanian dari Universitas Nusa Cendana Kupang Leta Rafael mengatakan, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebaiknya fokus meningkatkan produktivitas sawah-sawah yang sudah ada ketimbang membuka sawah baru.
“Menurut saya, sebaiknya pemerintah fokus meningkatkan produktivitas sawah yang ada. Produktivitas sawah di NTT saat ini masih rata-rata 3 ton/ha, padahal jika kita naikan menjadi cukup 5 ton/ha saja, maka NTT sudah bisa surplus beras,” kata Leta Rafael di Kupang, Senin.
Dia mengemukakan hal itu, terkait pembukaan sawah baru di NTT melalui program upaya khusus untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai (PJK) atau dikenal dengan Upsus Pajale (Upaya Khusus Padi, Jagung, dan padi, yang selalu tidak mencapai target.
Pada musim tanam tahun 2017 lalu misalnya, pemerintah pusat memberikan jatah pembukaan sawah baru untuk NTT seluas 1.500 hektare.
Namun dalam perjalanan direvisi lagi menjadi 667 hektare saja. Itu pun hanya terealisasi seluas 446 hektare.
Menurut Leta Rafael, kegagalan pembukaan sawah baru di NTT dalam beberapa tahun terakhir bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti data tentang lokasi sawah baru tidak akurat.
Selain itu, letak lokasinya di mana, berapa luasnya, bagaimana infrastruktur ke lokasi. Semua ini bisa menjadi penyebab NTT tidak bisa mencapai target yang diberikan pemerintah pusat.
Di sisi lain, pemilik lahan apakah komunal atau pribadi juga menjadi penghambat. “Jadi lahan komunal sangat sulit menjadi lahan pencetakan sawah sebab dapat menimbulkan konflik dalam masyarakat,” katanya.
Karena itu, menurut dia, seharusnya pemerintah lebih fokus pada peningkatan produktivitas sawah-sawah yang sudah ada dan tersebar di daerah-daerah di provinsi berbasis kepulauan itu.
Dia meyakini, jika produktivitas sawah-sawah yang sudah ada bisa ditingkatkan menjadi lima ton per hektare saja, maka NTT sudah bisa surplus beras.[ant]