FAO: Petani Miskin Perlu Perlindungan Lebih Baik dari Bencana
KUALA LUMPUR — Bencana alam, seperti, kekeringan dan banjir, merugikan negara berkembang 96 miliar dolar dalam bentuk kerusakan tanaman pangan dan ternak pada 2005 dan 2015, menyoroti kebutuhan akan meningkatkan perlindungan petani miskin, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Setengah dari kerusakan itu, senilai 48 miliar dolar, terjadi di Asia, kata laporan badan Perserikatan Bangsa Bangsa urusan pangan dan pertanian (FAO), yang diluncurkan di konferensi Hanoi pada Kamis.
“Asia selalu, dalam hal bahaya alam, menjadi daerah paling terpukul hanya karena mengalami begitu banyak badai tropis dan musim hujan lebat,” kata Stephan Baas, penasihat risiko di FAO dan salah satu penulis penelitian tersebut, kepada Thomson Reuters Foundation.
Selain curah hujan, pertanian Asia juga terpengaruh oleh gempa bumi, tsunami dan suhu ekstrim, kata laporan tersebut.
Kekeringan saja menyebabkan kerusakan 29 miliar dolar pada bidang pertanian di semua negara berkembang, kata kajian tersebut, yang menjadikannya ancaman utama bagi ketahanan pangan dan pendapatan.
Di Afrika, kerugian pertanian akibat bencana alam berjumlah sekitar 26 miliar dolar selama dekade ini, dan di Amerika Latin dan Karibia, kerugiannya mencapai 22 miliar dolar. Kekeringan adalah bencana yang paling mahal untuk panen dan ternak di dua wilayah tersebut.
Hama tanaman dan penyakit hewan menyebabkan kerugian sekitar 6 miliar dolar bagi petani Afrika.
Perubahan iklim cenderung memperburuk ancaman dan tantangan dari bencana alam, kata Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Jose Graziano da Silva dalam sebuah pernyataan.
Upaya untuk mengurangi risiko bencana dan mengelolanya dengan lebih baik harus menjadi bagian dari pertanian modern jika pembangunan berkelanjutan harus dicapai, tambah Baas.
“Tujuan utama dari laporan ini adalah untuk memberikan bukti pada para pembuat kebijakan dan perencana sehingga mereka tahu apa yang bisa dihindari,” kata Baas.
Langkah untuk mengendalikan risiko meliputi penggunaan benih yang tahan terhadap kekeringan atau banjir, sistem peringatan dini untuk cuaca ekstrem, dan akses kepada petani terhadap asuransi dan sistem keuangan, tambahnya.
Laporan tersebut, yang mengecualikan negara-negara industri, akan diperbaharui setiap dua tahun, dan digunakan sebagai alat untuk memantau komitmen global untuk mengatasi kemiskinan dan perubahan iklim, menurut Baas.
Secara global, sekitar 2,5 miliar orang mengandalkan pertanian untuk mata pencaharian, kata laporan Badan Pangan dan Pertanian.[ant]