Permintaan Ekspor Arang Tinggi, Perajin Kekurangan Bahan Baku
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Permintaan ekspor arang kelapa sebagai bahan baku briket tempurung kelapa, bahan karbon aktif yang berguna untuk instalasi pengolahan air serta sejumlah kegunaan lain, membuat permintaan akan arang batok kelapa semakin meningkat. Imbasnya sejumlah masyarakat yang memanfaatkan peluang tersebut menjadikan usaha pembuatan arang batok kelapa sebagai sumber penghasilan.
Salah satunya dilakukan oleh Hendrik (40) warga Dusun Susukan, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas yang memproduksi arang kelapa sejak lima tahun silam.
Hendrik menyebut, peluang usaha memanfaatkan limbah batok kelapa sisa proses pengolahan kopra tersebut dilakukan setelah melihat harga jual arang batok kelapa yang cukup menjanjikan. Ia bahkan menyebut, harga arang batok kelapa asalan dijual dengan harga Rp1000 per kilogram mulai merangkak menjadi Rp5000 per kilogram untuk arang asalan.
Sementara arang pilihan kering mencapai Rp8.000 per kilogram. Arang batok kelapa tersebut ditampung dalam karung-karung khusus untuk selanjutnya dikirim ke pabrik penampungan arang di Desa Lubuk Kelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda.

Hendrik menyebut, dalam sekali proses pembuatan dengan menggunakan tong besar terbuat dari bekas drum aspal berjumlah lima buah, ia rata-rata membakar sekitar 300 kilogram batok kelapa yang bisa menjadi sekitar 100 kilogram arang kering.
Batok kelapa yang sudah didinginkan dengan proses penyiraman menggunakan abu hasil pengayakan membuat proses pendinginan arang kelapa bisa dilakukan selama setengah hari sehingga tong bisa dipergunakan untuk proses pembakaran berikutnya.
Hasil proses pembakaran batok menjadi arang disebut Hendrik, dikerjakan oleh sebanyak lima karyawan yang merupakan pemuda putus sekolah di wilayah tersebut dimulai dari proses pembakaran, penyortiran arang asalan dan arang pilihan. Permintaan akan arang batok kelapa tersebut diakuinya masih cukup tinggi dengan permintaan minimal 9 ton seminggu sehingga dalam sebulan mengirim sebanyak 36 ton arang kering.
“Usaha pembuatan arang memang masih jarang dilirik orang karena belum tahu pemasarannya. Padahal peluang ini cukup menguntungkan secara ekonomis,” beber Hendrik.
Arang kering dengan harga jual per kilogram Rp5.000 dengan kadar air yang masih tinggi atau arang asalan diakuinya kerap dijual dengan jumlah mencapai 1 ton dengan hasil Rp5 juta per pekan. Sementara arang kering dijual dengan harga Rp8.000 per kilogram dengan harga jual Rp64 juta untuk bobot sebanyak 8 ton arang kering. Arang kering tersebut disimpan dalam karung-karung berukuran 80 kilogram.
Selain memberi keuntungan dengan memanfaatkan limbah, ia mengaku, memberi penghasilan bagi pembuat kopra dengan satu batok limbah kopra dibeli seharga Rp1,2 juta ukuran mobil L300 dengan sistem borongan dan seharga Rp25.000 per keranjang besar. Selain memberikan penghasilan tambahan bagi pembuat kopra, penggunaan limbah batok kelapa untuk usaha pembuatan arang juga sekaligus membersihkan limbah batok di tukang kopra.
Nurdin (30) salah satu pekerja yang bertugas membakar batok kelapa, disebutnya mendapatkan upah harian sebesar Rp70.000 bersama empat pekerja lain dengan tugas membakar batok kelapa dan melakukan proses pengepakan arang ke dalam karung. Keberadaan usaha pembuatan arang kelapa tersebut diakuinya ikut memberi penghasilan tambahan bagi para pemuda di wilayah tersebut.
“Biasanya saya bekerja sebagai tukang bangunan tetapi semenjak ada pembuatan arang batok kelapa saya bisa bekerja secara harian tanpa harus pergi jauh dari rumah,” ungkap Nurdin.
Nurdin bahkan menyebut, selain para pekerja yang bertugas membakar batok kelapa, sebagian pemuda bahkan bekerja sebagai pencari batok kelapa dari beberapa pembuat kopra menggunakan kendaraan roda tiga. Lokasi yang jauh dari perkampungan, selain memanfaatkan lahan yang luas, sekaligus menghindari polusi asap yang diakibatkan selama proses pembakaran batang kelapa menjadi arang.
