Perabot Bambu Buatan Warga Bakauheni ini Laris hingga Luar Lampung
Editor: Irvan Syafari
LAMPUNG — Bahan baku bambu hitam yang melimpah di Lampung Selatan membawa berkah bagi pembuat kerajinan perabotan rumah tangga (furniture) bernama Agustono (60).
Warga Dusun Penegolan, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni ini memiliki keahlian membuat perabotan dari bambu secara otodidak. Aktivitas ini telah dikerjakan hampir selama duapuluh tahun, semenjak dirinya merantau ke Lampung dari Purwekerto Jawa Tengah.
Pembuatan perabotan bambu dikerjakan Agus, secara manual menggunakan tangan dan peralatan sederhana. Perabot rumah tangga yang pernah dibuatnya berupa tempat duduk, tempat tidur, meja, rak buku, rak hias, pigura foto, kap lampu, serta berbagai jenis keperluan lain sesuai keperluan pemesan diantaranya tangga bambu dan gazebo.
“Bahan baku bambu bisa dibuat menjadi berbagai furniture dan keperluan lain menyesuaikan keinginan konsumen sebagian bisa saya kerjakan,” tutur Agustono saat ditemui Cendana News di galeri miliknya baru baru ini.
Saat pertama kali merantau ia sempat tinggal di Tanjungkarang dan melihat proses pembuatan furniture berbahan bambu. Selanjutnya setelah tinggal di Desa Hatta di mana tanaman bambu melimpah, ia mulai menjajaki membuat seperangkat furniture meja dan kursi bambu. Kala itu perabotan berbahan kayu dan bambu masih mendominasi sehingga pesanan cukup banyak.
Beberapa jenis perabot yang dominan dipesan masyarakat di antaranya seperangkat meja tamu dengan kursi, kursi panjang, kursi malas.
Pemilihan bahan dari bambu yang berusia tua dan diawetkan dengan cara khusus membuat perabot bambu buatannya bisa bertahan lama. Konsumen banyak menyukai buatannya karena unik dan artistik sebagai pemanis interior rumah.
Pada awal membuat perabotan puluhan tahun silam ia menyebut seperangkat meja dan kursi tamu dijualnya dengan harga Rp50.000 hingga Rp100.000.
Seiring perkembangan waktu kini dengan ukuran satu meter dan lebar setengah meter berupa satu meja kecil, dua unit kursi dan satu meja dijual dengan harga Rp600.000. Dua kursi panjang ukuran dua meter dengan satu meja dijual dengan harga Rp850.000 dan satu unit kursi malas berukuran dua meter dijual Rp350.000.
“Jenis perabotan lain harganya menyesuaikan ukuran dan kesulitan tingkat pembuatan melalui kesepakatan dengan pemesan dan harganya bisa dinegosiasi,” bebernya.
Meski dengan keterbatasan alat, tingkat presisi dan ketelatenan ia mengaku mampu menghasilkan belasan unit furniture dalam satu bulan.
Seperangkat meja dan kursi bambu ibuat dalam lima hari dan satu kursi malas bisa dibuat dalam waktu dua hari. Beberapa hasil karyanya kini dipajang digaleri yang ada di Dusun Kelawi Dalam Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni.
Berdasarkan tingkat kecepatan pembuatan dan pesanan ia mengaku dalam satu bulan rata rata mendapatkan omzet sekitar Rp3,5juta. Jumlah tersebut diakuinya menurut akibat peminat perabotan dari bambu mulai beralih perabotan berbahan busa dan bahan lain berkonsep minimalis. Sementara perabot dari bambu diminati pecinta nuansa etnik dan artistik, untuk vila, homestay hingga kafe.
Ia menyebut omzet meningkat saat ada pesanan dalam jumlah banyak terutama untuk sejumlah vila baru atau ckfe berkonsep gazebo. Masih adanya minat masyarakat akan furniture bambu membuat dirinya setiap pekan masih mendapatkan pesanan minimal dua hingga tiga paket perabotan, yang didominasi meja kursi tamu dan kursi malas.
Bahan baku bambu disebutnya dibeli dengan sekali proses pengambilan dari petani bambu. Sekali membeli ia mengaku mendapatkan pasokan sebanyak 150 batang dengan harga beli Rp15 ribu atau sebesar Rp1,5 juta untuk bahan baku bambu.
Selain membeli bambu dengan modal membeli alat Rp1 juta dan pembelian peralatan penghalus, paku, cat, dempul, pelitur Rp600 ribu dirinya bisa menghasilkan puluhan paket furniture.
“Modal awal berupa alat masih bertahan hingga lima tahun yang harus rutin dikeluarkan modal membeli cat, amplas karena bambu bisa digunakan satu bulan lebih baru habis,” ujarrnya.
Membuat perabotan bambu dengan motif etnik sebagian kerap dibuat motif batik, kain tapis Lampung disebutnya menjadi ciri khas buatannya. Berada di dekat kawasan wisata bahari Pantai Minang Rua dan beberapa tempat wisata membuat usaha kecilnya dikenal masyarakat.
Pemasaran dibantu anak dan konsumen di antaranya melalui media sosial.
Ia masih terkendala regenerasi keahlian yang dimiliki bahkan berharap ada anak muda meneruskan keahlian tersebut. Pemanfaatan bambu sebagai potensi lokal disebutnya bisa menjadi penghasilan pasti disaat sulit mencari pekerjaan.
Potensi pesanan dari wilayah lokal Lampung bahkan hingga ke Palembang disebutnya menjadi peluang usaha memanfaatkan bambu yang terbukti memberinya penghasilan.
“Saya ingin memberi pelatihan kepada anak anak muda tapi banyak anak muda yang enggan karena rumit padahal pekerjaan ini menghasilkan uang lumayan,” pungkasnya.
Hasan (30) salah satu warga yang membeli perabot bambu buatan Agustono menyebut menyukai hasil meja dan kursi yang bisa dipajang di beranda rumah.

Selain memiliki nilai estetika kerajinan dari bambu tersebut cukup nyaman untuk bersantai saat sore sembari membaca koran dan bersantai bersama keluarga. Harga yang bersaing dengan perabot modern.