Pendidikan jadi Sebab Ketidakbahagiaan Masyarakat Sumbar
Editor: Koko Triarko
PADANG — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar), Sukardi, menyebutkan persoalan pendidikan menjadi salah indikator ketidakbahagiaan masyarakat di Sumbar.
Hal ini sehubungan dengan keluarnya hasil indeks kebahagiaan penduduk se-Indonesia 2017, yang menempatkan Sumbar di urutan 10 dengan presentasi 77,43 persen.
Ia menjelaskan, indikator ketidakbahagiaan masyarakat di Sumbar itu disebabkan oleh faktor pendidikan. Di Sumbar, masyarakatnya sangat menginginkan anak-anaknya meraih nilai yang terbaik. Tetapi, hasilnya ada yang tidak sesuai harapan, sehingga muncul kekecewaan, dan menyebabkan masyarakat tidak bahagia.
“Ya, indaktor pendidikan yang menjadi poin, sehingga masyarakat di Sumbar ada yang merasa tidak bahagia. Kalau indikator lainnya, malah membuat masyarakat di Sumbar, bahagia,” katanya, Kamis (8/2/2018).
Bahkan, persoalan ekonomi tidak membuat masyarakat di Sumbar tidak bahagia. Meskipun ada sejumlah masyarakat di Sumbar yang hidup di bawah kemiskinan, dan juga menjadi pengamen di jalanan. Tetapi, hal tersebut dari data yang dimiliki oleh BPS, masyarakat tetap merasa bahagia.
“Ya, di Sumbar sepertinya indkator ekonomi membuat masyarakat bahagia, kok. Mau hidup dengan penghasilan relatif medium, masyarakat tetap bahagia,” ujarnya.
Sementara sisi hidup berkeluarga, masyarakat di Sumbar merupakan masyarakat yang bahagia dalam menjalani keharmonisan hidup berumah tangga. Mulai dari hidup yang tergolong kurang mampu dan menengah.
Sehingga, intinya hanya soal pendidikan saja yang membuat masyarakat di Sumbar yang tidak bahagia. Target yang tinggi, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Sementara, masyarakat yang paling bahagia di Indonesia berada di Maluku Utara dengan presentasi 75,68 persen. Direktur Diseminasi Statistik BPS Pusat, Adhi Wiriana, mengatakan dalam mengumpulkan data itu BPS memiliki tiga indikator, yakni indkator bahagia hidup bermasyarakat, indikator terhadap kondisi atau rasa aman seperti tindakan kriminal, dan indikator rasa keseimbangan seperti ekonomi.
“Jadi, kita BPS melakukan penelitian yang bekerja sama dengan perguruan tinggi. Dengan cara mengambil sampel dan menyebarkan konsioner kepada masyarakat,” jelasnya.
Dari hasil indeks kebahagiaan penduduk se-Indonesia pada 2017, katanya, Provinsi Maluku Utara menjadi daerah yang masyarakatnya sangat bahagia.
Menurutnya, khusus di Maluku Utara itu masyarakatnya bukan terlihat dari soal kondisi ekonomi. Karena belum tentu orang yang memiliki penghasilan tinggi, membuat seseorang masyarakat bahagia. Di Maluku Utara penghasilan masyarakatnya Rp2-3 juta per kapita.
Di Maluku Utara, kebahagiaan masyarakatnya cukup sederhana. Seperti dengan cara saling sapa dan bersalaman, membuat masyarakat di Maluku Utara menjadi bahagia. Hal tersebut masuk indikator hidup bermasyarakat.
“Artinya, di sana jika hidup pas-pasan, dikarenakan hidup sosialnya bagus, sehingga tingkat saling membantu itu yang membuat masyarakat di Maluku Utara, bahagia,” tegasnya.