Pemerhati Budaya Belanda Apresiasi Museum Multatuli Rangkasbitung
LEBAK – Pemerhati budaya dari Amsterdam, Belanda mengapresiasi pembukaan Museum Multatuli di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keberadaan musium tersebut dinilai memperlihatkan kecintaan masyarakat terhadap Multatuli.
“Kami sangat senang melihat masyarakat Kabupaten Lebak ternyata mencintai sejarah Multatuli,” kata Direktur Konservator Multatuli Huis Amsterdam, Belanda, Klaartje Groot, saat mengunjungi museum itu di Lebak, Senin (12/2/2018).
Gedung Museum Multatuli diharapkan menjadikan pusat kebudayaan bagi masyarakat setempat. Di mana kaum kolonial telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan kerja paksa dan penindasan terhadap masyarakat pribumi sehingga mereka pada masa lalu hidup menderita.
Kesengsaraan dan kelaparan dialami masyarakat Kabupaten Lebak akibat pajak dikeruk oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Oleh karena itu, novel Max Havelaar karya Multatuli merupakan bagian sejarah dunia. Douwes Dekker diutus pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai Asisten Residen Lebak pada 1850 untuk ditugaskan di Kabupaten Lebak.
Perjuangan Douwes Dekker mengangkat nasib buruk warga Lebak dari penderitaan. Selain pekerja keras, Douwes Dekker juga suka membantu masyarakat Kabupaten Lebak. “Kami dari Belanda datang ke sini ingin melihat langsung peresmian Museum Multatuli ini,” katanya.
Dia juga mengaku senang melihat warga Indonesia yang ramah dan bersahabat. Groot mengaku menyukai kebudayaan Indonesia, khususnya budaya masyarakat Kabupaten Lebak. Salah satu kebudayaan masyarakat Kabupaten Lebak yang disukai adalah pakaian adat yang bermotif batik.
“Kami berharap Museum Multatuli itu menjadikan simbol perjuangan kebudayaan manusia,” katanya.
Bupati Lebak Iti Octavia mengatakan, proses pembukaan gedung Museum Multatuli, melalui banyak kritikan. Kehadiran Museum Multatuli menjadikan kebanggaan masyarakat Lebak. Museum itu juga untuk mengenang pelestarian sejarah yang terjadi pada masa penjajahan Belanda. Sejarah tentang Multatuli dikenal hingga Eropa dan Amerika Serikat.
“Kami berharap Museum Multatuli dijadikan mercusuar ilmu pengetahuan juga kebudayaan masyarakat Lebak juga dijadikan pelajaran sejarah kepada anak-anak cucu,” katanya.
Kehadiran Museum Multatuli dipastikan berdampak positif bagi pemerintah daerah, terlebih Kabupaten Lebak agar sejajar dengan daerah lainya, terutama di Provinsi Banten. Selain itu, Museum Multatuli menjadi khasanah wisata sejarah dan bisa mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Kabupaten Lebak juga memiliki objek wisata adat masyarakat Baduy. “Kami berharap Museum Multatuli berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (Ant)