Pasukan Kurdi Dibunuh Secara Keji Oleh Gerilyawan Dukungan Turki

Ilustrasi Peta wilayah Suriah - Foto: Dokumentasi CDN

BEIRUT – Pasukan Kurdi di Suriah menyebut, ada salah satu anggota mereka mereka dibunuh oleh gerilyawan yang didukung Turki. Pernyataan tersebut merujuk kepada sebuah video yang beredar di media sosial.

Turki melancarkan serangan udara dan darat di bulan lalu terhadap gerilyawan Kurdi. Aksi dilakukan wilayah Suriah barat laut, Afrin, di perbatasan Turki yang selama ini dikuasai oleh Kurdi. Serangan tersebut membuka sebuah konflik baru dalam perang multi-sisi di Suriah yang sekarang mendekati tahun kedelapan.

Pemerintah Suriah timur yang dipimpin Kurdi mengatakan, bahwa salah satu gerilyawan bernama Barin Kobane yang bertempur untuk milisi YPJ Kurdi, dibunuh oleh gerilyawan yang didukung Turki. Para gerilyawan dukungan Turki tampak mempermainkan ]jasad Kobane di dalam video yang beredar di media sosial tersebut.

Peristiwa itu diabadikan dengan kamera.YPJ adalah afiliasi dari pasukan YPG Kurdi yang beranggotakan perempuan. “Kami meminta pemerintah Turki bertanggung jawab atas tindakan keji ini. Kami memberi hormat pada jiwa para petempur,” ujar pernyataan resmi dari Kurdi.

Rekaman itu menunjukkan mayat yang penuh darah tergeletak di lantai. Bagian tubuhnya tampak terpotong. Video tersebut telah menyebabkan kemarahan di kalangan penduduk Kurdi di Suriah utara. Foto-foto peringatan terhadap kejadian tersebut beredar luas di media sosial.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, Kobane terbunuh saat berperang di utara wilayah Afrin dekat perbatasan Turki. Di lokasi tersebut pasukan pendukung Turki telah mengambil beberapa wilayah sejak meluncurkan operasinya bulan lalu. “Kobane berusia pertengahan dua puluhan, bergabung dengan YPJ pada 2015. Dia terbunuh bersama tiga petempur lainnya di dekat kota Bulbul,” kata seorang pejabat YPG.

Sementara itu Pemerintah Suriah menggambarkan serangan Turki di wilayah Afrin di Suriah sebagai agresi ilegal. Suriah akan menanggapi serangan itu dengan tindakan setimpal. “Operasi militer Turki di Suriah utara adalah agresi yang mencolok. Keberadaan pasukan asing tanpa izin merupakan ‘pendudukan dan akan ditindak dengan semestinya,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Suriah yang disebarkan media pemerintah setenpat.

Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Ahad (28/1/2018) berikrar akan membersihkan wilayah perbatasannya dengan Suriah. Tindakan tersebut dinilai dapat meningkatkan resiko bentrokan antara tentara Turki dan AS di negara yang dicabik perang itu.

Wakil Perdana Menteri Turki dan Juru Bicara Pemerintah Bekir Bozdag pada Senin (29/1/2018) yang bertepatan dengan hari kesepuluh penyerbuan Turki, mengatakan tentara AS akan dijadikan sasaran jika mereka berbaur dengan petempur Kurdi.

Namun, ia menganggap resiko konflik langsung kemungkinan terjadinya tipis. Tentara Suriah Bebas untuk mendesak petempur Kurdi dari Suriah Utara. Petempur Kurdi, yang dilarang oleh Ankara, telah bersekutu dengan tentara AS dalam perang melawan IS. (Ant)

Lihat juga...