Mangrove Pesisir Timur Lamsel Lestari, Sumber Penghasilan Nelayan

Editor: Satmoko

LAMPUNG – Keberadaan jajaran pohon mangrove di pesisir timur Lampung Selatan (Lamsel) masih menjadi sumber penghasilan bagi warga nelayan dan masyarakat umum di Kecamatan Ketapang dan Bakauheni.

Hasan (30) salah satu warga yang tinggal di perkampungan nelayan Dusun Keramat Desa Sumur Kecamatan Ketapang setiap hari mencari ikan. Ia menyebut mempergunakan pancing dan bubu kawat untuk perangkap udang lobster, kepiting dan rajungan.

Setiap hari Hasan kerap mendapatkan hasil tangkapan ikan berbagai jenis sebagian dijual, sebagian dikonsumsi untuk keluarganya. Hasil tangkapan ikan yang tetap terjaga tersebut diakui Hasan dengan masih dipertahankannya ekosistem mangrove di pesisir Timur Lampung. Keberadaan mangrove yang lestari menjadi habitat ikan yang kerap menjadi sumber penghasilan bagi nelayan setempat.

Ekosistem tanaman mangrove di pantai pesisir timur Lampung membentang dari Muara Piluk Kecamatan Bakauheni hingga Keramat Kecamatan Ketapang menjadi lokasi pemancingan warga [Foto: Henk Widi]
“Selain banyak mangrove di pesisir, saluran-saluran sungai yang ditumbuhi mangrove menyatu dengan embung-embung alami sehingga semakin banyak ekosistem mangrove di wilayah ini,” beber Hasan, salah satu warga kampung nelayan Keramat, saat ditemui Cendana News tengah memancing ikan bersama rekan-rekannya, Rabu (21/2/2018).

Selain jenis pohon mangrove, sejumlah pepohonan yang membentuk ekosistem rawa berupa pandan air dan pohon cemara menjadi habitat burung. Hasan menyebut ekosistem yang terbentuk secara alami tersebut bahkan bisa menjadi lokasi untuk penghobi pengamatan burung (bird watching). Burung jenis kuntul, camar, perkutut, kutilang membuat sarang di hutan mangrove yang masih terjaga di kawasan tersebut.

Hasan berharap kepada pemilik lahan yang memiliki kawasan mangrove tersebut tidak mengubah fungsi ekosistem mangrove menjadi tambak dan dermaga. Beberapa lokasi di pesisir timur Lampung disebut Hasan sebagian sudah direklamasi menjadi tambak dan bangunan dermaga kapal tongkang.

Salah satu warga lain, Ahmad (30) menyebut, keberadaan ekosistem mangrove di kawasan tersebut masih belum dikelola dengan maksimal. Ia berharap agar masyarakat yang memiliki kepedulian pada ekowisata bisa mengembangkan kawasan tersebut sebagai lokasi wisata alam. Selain bisa menikmati kesejukan alam hutan mangrove pengunjung bisa diajak melakukan konservasi mangrove secara berkelanjutan.

“Saat ini keberadaan mangrove masih sebatas dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan dan belum dimaksimalkan untuk eko wisata,” beber Ahmad.

Sebagian nelayan yang memasang perangkap kepiting, lobster, rajungan bahkan kerap memperoleh 20 hingga 30 kilogram jenis kepiting. Dengan harga Rp20 ribu per kilogram berisi dua kepiting, ia menyebut, bisa memperoleh penghasilan cukup lumayan. Selama ekosistem tanaman mangrove di kawasan tersebut dipertahankan nelayan dan warga kampung nelayan masih bisa mencari mata pencaharian.

Imbauan penggunaan alat tangkap ikan ramah lingkungan dan menjaga ekosistem pesisir dilakukan Satpolair Polres Lamsel [Foto: Henk Widi]
Upaya menjaga ekosistem mangrove dan lingkungan perairan laut juga menjadi perhatian Satpolair Polres Lampung Selatan. Brigadir Polisi Kepala Agung Gde Asmarajaya, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtimbas) perairan mengaku, gencar melakukan sosialisasi. Ia menyebut ekosistem pantai dengan mangrove dan tanaman lain sebagai penahan abrasi sangat penting.

“Satpolair memasang imbauan dengan banner di sejumlah tempat terutama kampung nelayan agar jangan merusak laut dan mencemari,” beber Bripka Agung GA.

Penggunaan alat-alat tangkap tradisional tanpa merusak perairan laut bahkan dianjurkannya. Ia juga mengajak anak-anak di lingkungan kampung nelayan untuk sejak dini mencintai pesisir pantai dengan menanam bibit mangrove guna mencegah abrasi. Perusakan tumbuhan pesisir di antaranya setigi, disebutnya akan mempercepat kerusakan pantai dan membuat nelayan bisa semakin sulit mencari ikan.

Lihat juga...