Indonesia Harus Rawat Persaudaraan Bangsanya

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA –  Sudah saatnya Indonesia menerima kenyataan keberadaan kemajemukan yang dimiliki. Indonesia sudah saatnya memberikan ruang bagi komunitas Tionghoa menjadi integral dari kebangsaan Indonesia. Banyak potensi-potensi yang dimiliki komunitas Tionghoa yang bisa memperkaya Indonesia.

“Imlek juga mengoneksikan semangat kekeluargaan, dimulai dari sekasur, serumah, sesumur, seIndonesia, dan bahkan sedunia, itu pesan moral dari Pancasila, bahwa kita ini menjadi bangsa tapi juga merawat persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini,” tandas Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief saat menghadiri perayaan Imlek di Vihara Dharma Bhakti, di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Jumat (16/2/2018).

Yudi mengatakan, kehadirannya bersama dengan jajaran UKP-PIP ke Vihara Dharma Bhakti bertujuan untuk menunjukkan komitmen negara dalam rangka menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk. Masyarakat bebas untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kebebasan tersebut disebutnya, sesuai dengan amanat konstitusi pasal 29 “Kita juga masih punya pasal 28 tentang perlunya negara memberikan kebebasan berhak indentitas budaya, Kita juga masih punya konstitusi pasal 28 e menekankan pentingnya negara menjamin kebebasan beribadah. Jadi begitu banyak pasal-pasal dalam konstitusi kita yang menekankan pentingnya negara menjamin keberagaman, peribadatan dan identitas spiritual,” tambah Yudi.

Klenteng Vihara Dharma Bhakti merupakan klenteng tertua di Indonesia. Keberadaannya menunjukan bahwa sebenarnya generasi Tionghoa di dalam masyarakat Indonesia sudah ada sejak lama. Keberadaanya memberikan khasanah budaya yang sangat kaya.

Fakta menunjukan, setiap agama memiliki jejak di Indonesia. Mengutip pernyataan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, Yudi menyebut, cara beragama sejati itu kalau menjadi seorang Islam itu harus menjadi Islam yang disesuaikan dengan kenyataan di Indonesia.

“Harus Islam Indonesia, bukan Islam Arab. Begitu juga Kristen Indonesia, Katolik Indonesia, Hindu Indonesia, Budha Indonesia, Tionghoa Indonesia, Konghucu Indonesia,” tandasnya.

Dengan begitu berbagai asupan-asupan dari luar akan memberi kekayaan yang luar biasa bagi Indonesia. Interaksi dalam bermacam-macam agama dan kepercayaan serta adat-adat tersebut akan memperkuat Indonesia sebagai pusat peradaban dunia.

Dalam hal ini Yudi jadi ingat pada Bung Karno, Indonesia itu ibaratnya satu rumah besar yang mempunyai suku-suku yang banyak. Suku dalam Bahasa Jawa memiliki arti sikil, dalam bahasa Sunda berarti kaki. “Jadi rumah besar Indonesia punya banyak kaki yang menopang keIndonesiaan. Salah satunya yang beliau sebutkan sebagai kaki Jawa, kaki Sunda, juga kaki Tionghoa,” tambah Yudi.

Di 2018 yang menjadi tahun politik, Yudi berpendapat pesan yang harus sampai adalah bagaimana jangan sampai masyarakat melakukan politisasi identitas yang membuat masyarakat yang semula hidup damai justru akan berhadapan satu dengan lainnya.

Lihat juga...